Helia II

Ketika ku membuka jendela kamar
Parasmu telah menyambutku dengan tatapan tak biasa
Kusapa engkau dengan tak kalah serius
Lalu kau malu-malu, terkadang sedikit ragu, Helia.

Tangkai dan dedaunan mulai beranjak dari perjamuan singkat semalam
Kejora tak biasanya jua mampir begitu lama di atap rumahku
Dan kau menyadari itu.

Aku tak pernah tahu, Helia.
Bila mata sembabmu itu sudah menjelma menjadi sosok yang lain
Khususnya pagi ini
Atau karena senja kemarin memberimu tanda
Sebab tak biasanya Matahari tenggelam begitu cepat.

Aku tak pernah tahu, Helia.
Bila kau telah mencintaiku sejak itu
Dan dengan mudahnya ku memotong pintalan rasa bahagiamu
yang kau siapkan untuk merajut hari-hari esok.

Jakarta, 20 November 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s