Helia II

Ketika ku membuka jendela kamar
Parasmu telah menyambutku dengan tatapan tak biasa
Kusapa engkau dengan tak kalah serius
Lalu kau malu-malu, terkadang sedikit ragu, Helia.

Tangkai dan dedaunan mulai beranjak dari perjamuan singkat semalam
Kejora tak biasanya jua mampir begitu lama di atap rumahku
Dan kau menyadari itu.

Aku tak pernah tahu, Helia.
Bila mata sembabmu itu sudah menjelma menjadi sosok yang lain
Khususnya pagi ini
Atau karena senja kemarin memberimu tanda
Sebab tak biasanya Matahari tenggelam begitu cepat.

Aku tak pernah tahu, Helia.
Bila kau telah mencintaiku sejak itu
Dan dengan mudahnya ku memotong pintalan rasa bahagiamu
yang kau siapkan untuk merajut hari-hari esok.

Jakarta, 20 November 2018

Iklan

Endler’s Livebearer

Ku terduduk di sebuah kolam. 
Daripadanya air mengalir sejak asal sampai ke anak-anak sungai buatan.

Kupandangi gelombangnya dan aliran yang begitu estetik.
Kolam itu membentuk sistematika baku dari gravitasi. Layaknya air terjun tempat para dewi berkumpul.

Dalam kolam itu hidup banyak ikan hias.
Endler’s Livebearer.
Ya, rupanya dirinya cukup memesona. Menjadi primadona di dalam hiasan ikan air tawar.
Ia begitu ramah dan pandai beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Gerakannya yang lincah dan enerjik memberikanku ruang baru. Tentang sebuah harapan dalam bersikap dan berucap.

Namun, semua itu seraya sirna dalam sekejap di kolam itu jua. Listrik yang mati membuat keseimbangan goyah. Ekosistem mulai rusak. 
Endlers Livebearer yang kudamba. 
Kau mulai pongah dan mencabik-cabik hatiku.
Merusak rasa cinta dan kagum yang semula kusangka abadi bersamamu.

Jakarta, 19 November 2018

Tentang Tuan dan Puan dalam Hati yang Bimbang

Padamu aku belajar keikhlasan. Pada kesempurnaan yang juga belum pasti akan datang. Pada kejujuran di kedua bola mata yang selalu kupercaya.

Denganmu ku belajar ketulusan. Pada sebuah simfoni teragung dalam suatu saat, yang berakhir pada tali terikat.

Pada akhirnya aku memahami. Genggaman yang terlalu sesak diikatkan ke hati, mampu mencederai sebuah altar perjanjian dari kedua belikat.

Sekalipun tak ada yang pernah tahu bagaimana aku akan mereguk masa depan. Aku sudah tak akan pernah lagi menjadi tuan di negeriku sendiri. Tak lain karena setiap kesombongan dan kebodohanku.

Ku pernah merasakan sayap-sayap semangat itu mengudara lalu terbakar. Jangan bakar lagi, puan. 
Biarkan aku terbangun dari kelelahan dan keletihan. Lalu, tersadar dalam sebenarnya sadar yang aku ciptakan.

Jakarta, 19 November 2018

Sebatang Kara, Rose dan Duri

Sayangnya, aku pernah mengeluh bahwa hidupku ini menyedihkan. Aku juga kerap merasa diri ini tak pernah berkembang apalagi tumbuh.

Aku tidak pernah melihat diri ini memberikan kebaikan pada sekitar. Sedari dulu, aku selalu menjadi sebatang kara. Aku pun kerap menyakiti orang yang coba mendekatiku.

Namun, ada yang aku lupa. Bahwa bunga mawar tetap tumbuh dan berkembang meski selalu sebatang kara. Bunga mawar tak pernah kehilangan rasa cintanya. Selalu merekahkan banyak kebaikan bagi yang memandangnya. Bahkan perlambang cinta yang sejati.

Aku pun tak pernah paham mengapa mawar selalu begitu mengagumkan. Meskipun ia sendiri, sebatang kara, dan berduri.

Sama halnya aku tak pernah benar-benar bersyukur. Ada hal yang mungkin cukup mengagumkan di dalam diri ini.

Jakarta, 18 November 2018

Narasi Pemertahanan

Ketahanan akan sesuatu tak mungkin bisa ditemukan dalam keadaan kamu tidak mencintai.
Seberapa sering kamu mengelak akan ketidakcintaanmu, sesering itu pula kamu memberikan keyakinan untuk terus bertahan.

Terkadang, kekhawatiranmu itu pula yang diam-diam menjadi bentuk cinta yang lain. Semakin engkau khawatir, semakin engkau bertahan dan semakin pula engkau takut ditinggalkan.

Jakarta, 18 November 2018

Bukan Sekadar Fobia

Apapun yang kau inginkan akan kuwujudkan. Asalkan kau membebaskan rasa takutku pada setiap bayang kehilanganmu.

Apapun yang kau lakukan selalu ku dukung. Asalkan kau memastikan posisi aku di dalam hidupmu kini dan kelak nanti.

Apapun yang kau lakukan tak pernah kutolak. Sebab, kupercaya Tuhan selalu ada dipihakku. Tuhan menciptakan dirimu untuk segera memerdekakanku, pada kesungguhan dan keikhlasan cinta terhadap makhluk. Kamu.

Jakarta, 18 November 2018

Menemukan(ku) dan Dipertemukan(mu)

Satu hal yang tak boleh engkau lupakan yaitu pertemuan.

Pada akhirnya, tujuan dari pertemuan bukanlah sebuah perpisahan. Melainkan persandingan dan perpaduan antara banyaknya perbedaan.

Layaknya makanan yang kau santap rutin. Kolaborasinya memungkinkan satu persatu bahan yang jika dimakan sendiri belum tentu enak menjadi sedap untuk dimakan. Walau terkadang juga membuat makanan yang diolah itu tidak enak. 
Itu adalah konsekuensi. Setiap hal punya konsekuensi dan tingkat penyesuaiannya. Ada yang bermasalah, ada pula yang tidak bermasalah akan hal itu.

Jakarta, 17 November 2018

Sebut Saja: Tragedi Di Tempat Sakral

Hal yang paling indah di dalam hidupku adalah bersanding sambil memegang erat tanganmu di pelaminan.

Atau jika tidak terwujud, aku lebih suka apabila kau jangan mengundangku dalam pesta pernikahanmu dengannya.

Namun, yang paling sial adalah ketika kau mengundang teman-temanku dan aku mau tak mau harus menghadirinya.

Jakarta, 17 November 2018

Tentang Dialog seorang Ratu

Kau memanduku dalam mencari jati diri. Kau angkat dan perlakukan aku seperti ratu di singgasanamu. 

Ketika dirimu terbang mengudara, Kau mendekapku dan mengajakku untuk terbang jua. Kala itu berdua menjadi keharusan, bukan tentang setinggi apa kita terbang bersama. Namun, seberapa erat dekapanmu memanduku mencapai cita dan cinta bersama.

Di satu sisi kau begitu egois mengajakku terbang tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu.

Di satu sisi lagi kau begitu peduli denganku, mengantarkan aku menggapai cita-citaku.

Jakarta, 17 November 2018