Padamu aku belajar keikhlasan. Pada kesempurnaan yang juga belum pasti akan datang. Pada kejujuran di kedua bola mata yang selalu kupercaya.
Denganmu ku belajar ketulusan. Pada sebuah simfoni teragung dalam suatu saat, yang berakhir pada tali terikat.
Pada akhirnya aku memahami. Genggaman yang terlalu sesak diikatkan ke hati, mampu mencederai sebuah altar perjanjian dari kedua belikat.
Sekalipun tak ada yang pernah tahu bagaimana aku akan mereguk masa depan. Aku sudah tak akan pernah lagi menjadi tuan di negeriku sendiri. Tak lain karena setiap kesombongan dan kebodohanku.
Ku pernah merasakan sayap-sayap semangat itu mengudara lalu terbakar. Jangan bakar lagi, puan.
Biarkan aku terbangun dari kelelahan dan keletihan. Lalu, tersadar dalam sebenarnya sadar yang aku ciptakan.
Jakarta, 19 November 2018