SAJAK I

SAJAK I
Bukan aku ingin banyak
bicara.
Karena kata ini
terlalu sulit untuk terucap sebelumnya.
Pada masa yang lalu.
Tapi, aku yakin dan
pantas untuk kau baca.
Entah pagi yang
bagaimana yang aku butuhkan.
Entah embun yang
seembun apa yang aku rasakan.
Hanya kau yang aku
ingat.
Ketika melihat
matahari muncul,
Begitu ku teringat
pada senyum simpul yang kau berikan.
Ketika kuayuh kuda
besi tadi,
Masih membayangkan
begitu indah perilakumu
Terhadap manusia ini
Jika memang barisan
pagi,
Embun,
dan keadaan
sekelilingku dapat aku simpul.
Maka kudapatkan
sejelas-jelasnya sosokmu.
Membekas.
Bahagia.
R.H.S

Sajak Orang yang Mau Mati

Sajak Orang yang Mau Mati
Jika
wajah bumi bisa pucat pasi, maka tiada yang tak mungkin dengan wajahku. Wajah
manusia biasa yang bisa-bisanya mengaku manusia. Tetapi, tidak berlaku
manusiawi bahkan terhadap hewan dan sejenis kuskus yang lari di pelataran
rumah. Hal ini mungkin akan menjadi momok yang menakutkan untukku. Bisa juga
untukmu. Untuk kalian.
Aku
tahu aku pasti mati. Begitupun nasibmu dan nasib kalian. Namun, bukan mati yang
aku takutkan. Aku takut ada aku kecil yang siap menjadi aku yang kotor dan
penuh bau kotoran ini. Aku takut aku kecil mengajarkan bakal-bakal aku yang
lain agar menjadi aku yang sekarang. Aku tidak ingin aku-aku yang lain menjadi
aku yang rusak.
Mungkin
aku yang sekarang telah mati.Tetapi, hati-hati pada aku-aku yang lain. Yang
bahkan akan jauh berbeda dengan sekarang. Jauh lebih kotor dan bau. 
Ini
semua karena proses yang berlangsung lama. Membentuk sedimentasi yang tak
mempan oleh terjangan dan hujatan angin. Juga air. Atau api.
Aku
yang dahulu telah mati,sebab aku tumbuh menjadi tunas yang baru. Aku tak akan
sama dengan aku-aku yang dahulu. Sebab proses mengajarkanku pada kekosongan.
Kenistaan.
Aku
yang dahulu telah mati, semoga kau rekam diingatanmu dengan baik. Aku tak mau
janji. Karena janji adalah manipulasi orang yang membutuhkan keyakinan. Karena
ketidakyakinannya. Maksudku, tanpa berjanji pun, kau bisa melakukan perbuatan
yang jauh lebih baik. Pada saatnya.Pada saatnya.Tanpa perlu janji-janji yang
menyukai kepalsuan itu.
:
aku atau kau yang mati

R.H.S

Aku Tak Memahami Ilalang

Aku Tak Memahami Ilalang
:
Aku yang tak memahami ilalang,
atau
ilalang yang tak memahamiku
Sedari
dulu aku mencari
aku
tak memahami ilalang,
jika
hanya dipandang
tidak
untuk dirasakan
Sampai
aku tertatih
aku
tak memahami ilalang,
jika
hanya disayang
bukan
di hati
Sejauh
aku menyambut
aku
tak memahami ilalang
tentang
arti melupakan
dan
menjauh pergi
Ilalang
yang memahamiku,
tentang
sebuah cinta kepada tubuh
yang
dipilih
untuk
disakiti
Dan
ilalang yang memahamiku,
tentang
meneruskan hidup
untuk
bernyanyi
agar
menyentuh langit negeri

R.H.S

Penantian

Penantian
Menunggu namamu yang mungil segera
menjemputku.
Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan
kemudian tiada.

Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada
sepenggal lantunan yang kau bawa mati. 
Dahulu.

Masih kukecup datar kulitmu yang langsat.
Kencang.
Membuatku tergoda.

Pagi.
Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu.



R.H.S

Sekadar Salam

Sekadar Salam

Salam sapa kepada bapak-bapak yang
mengerti tentang naiknya elpiji,

yang saling lempar bola
lempar tanggung jawab.

Salam sapa kepada ibu-ibu yang tak bisa berhenti
berkicau tentang naiknya elpiji,

yang menghabiskan koceknya
sehingga mereka geram

Salam sapa kepada pemuda yang bahkan baru tahu tentang
naiknya elpiji,

mereka tenggelam di dunia tawa
tempat singgah tayangan tak bernyawa

Salam sapa kepada para kreator politik yang pedas
kata-katanya,

tenang saja,
percuma saja kau emosi.
Toh, tak didengar juga.

Mungkin, hanya dicatat dan diselipkan ke kantung
celana.



R.H.S

Pengakuan

Pengakuan

Tuhan, aku menundukan wajah.

Tahu aku terlalu banyak tersenyum,



tanpa sadar bahwa orang lain murung.


Tuhan, aku sedang menghela keringat.



tahu aku telah dilumuri minyak-minyak jahat,


yang biasa aku bersihkan dengan sapu tangan
kesayanganku.


Tuhan, aku sedang berkesungguhan.



Tahu aku telah lalai di kesembaban lalu,


yang membayang sampai hitam pekat.

R.H.S

Ketika Sehelai Daunku Jatuh

Ketika Sehelai Daunku Jatuh

Baru kali ini aku merelakan sehelai
daunku jatuh.

Tetapi, daun di tubuhku ini tidak hanya satu.
Terdapat ribuan bahkan jutaan helai yang menempel
padaku.

Aku sangat bahagia saat dedikasi-dedikasi mereka begitu
tinggi.

Aku tersenyum dengan mereka yang muda.
Tahan angin topan dan hujan.
Padahal aku belum tentu sekuat mereka.

Wahai bagian tubuhku yang melekat.
Jangan lagi takut meranggas dan terjatuh di tanah.
Karena dengan jatuhnya engkau,
Itu artinya jatuh pula air mataku.


R.H.S

Masih Politik

Masih Politik

Setahun sejak adanya Masehi,
sajak tentang kemerdekaan tak lagi mengeluar.
Entah penduduk dunia yang telah merdeka seutuhnya.
Atau mungkin singgasana para teknokrat yang
menjepit-jepit mereka.

Modus.
Aku tak tahu.

Pada sebuah keterikatan,
zaman dengan zaman selanjutnya ada keterkaitan.
Dengan pakem hasut-menghasut gaya bonaparte.
Kata siapa.
Aku tak tahu.

Manusia yang menghubung secara hori dan verti,
mulai lalai mengkorupsi lingkungannya.
Politik tegur sapa katanya.
Bubarkan saja.
Aku tak tahu.



R.H.S

Sajak Seorang Tahanan

Sajak Seorang Tahanan

Kumelihat perhatianmu kepadaku dari
balik jeruji besi.

Sambil mengunyah roti yang diberi pak sipir tadi pagi.

Kadang roti ini tak ku makan.
Sentuh bagian muka saja tidak.
Biasanya kubiarkan agar dilahap oleh binatang lapar.
Bisa.
Tikus.

Dengan setelan compang-camping,
ku selonjorkan kaki yang tadi pagi keram.
Terkena lilitan syaraf.
Leher.
Bersitegang.

Malamku serasa siang.
Dan siang hariku terasa tak bermalam.
Maklum.
Aku tahanan.

Aku habiskan waktu.
Tidur pulas.
Tidak ada yang membangunkan.



R.H.S

Iya!

Iya!

Sampai pada kesimpulan.
Seharusnya kau pandai memahami,
bahwa semua yang kau sangsikan kepadaku adalah tuduhan
yang tak beralas.

Sengketa pemikiran,
perampasan otak,
perajaman kebenaran demi kebenaran.
Itu menggambarkan tentang kecintaanmu kepada kami.
: iya

Masih saja membutakanmu.
Akan perihal yang sebiji zarah itu.
Begitu indah pernyataan cintamu pada kami.
: iya

Aku harap engkau benar-benar cinta kepada kami.
Orang yang tak bisa melihat kau meneteskan air
mata.

Kami cinta kau.


: masalah lama



R.H.S