800×600
Normal
0
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}
Puisi VIII
Pada suatu hari yang biru,
Aku mencoba untuk sekali saja dikalahkan
keadaan.
Meski matari tak rela.
Enggan menghendaki.
Saat itu burung pipit yang sejak malam
menyembunyi mampir.
Hendak bertanya akan sesuatu.
Tentang istilah kesunyian.
Lalu menyegerakan pergi.
Jauh dari pandang.
Karena hari biru inilah yang
dieluh-eluhkan.
Untuk sekadar melongok hidup dua orang insan.
Yang masih lugu dan lucu.
Yang tak lebih tahu tentang apa yang
terjadi di kemudian malam.
Begitu membahayakan jika malam,
Telah mapan dengan kegelapannya.
Bahkan watak pun telah menggelap.
Seperti tak tahu arah.
Begitu menderita jika malam,
terus dihantui rasa bersalah.
Yang kemudian menyakiti orang-orang
tercinta.
Sehingga melahirkan sebuah kebengisan.
Kebencian.
Itulah yang aku khawatirkan.
Supaya nantinya kita mengerti dan paham.
Bukan benci yang dituju malam.
Bukan itu.
Selanjutnya, ku merindukanmu.
Seindah-indahnya kerinduan.
Secemerlang emas perak. Meski, kita sering
berjumpa.
Selalu bertegur sapa.
Suatu malam biru di tepi senja