Sajak untuk Negeri Ibunda

Kami masih banyak diam,
Meski seluruh tenaga kami hampir habis.
Diperas, dikucilkan.
Kata seseorang ini hanya sebuah kritik,
Ya, kritik yang berkepanjangan.
Tak berkesudahan, atau malah menjatuhkan.
Suara layur demi layur menjadi kambing hitam.
Hanya bungkaman ideologi tak berkesudahan.
Jika kami bukan robot, adakah yang mau menolak?
Sebab, sejungkal dada kami kembang kempis.
Mencoba berbagai cara
Namun nyatanya hanya mimpi di kubangan lumpur
Tidak ada kata satu.
Yang ada hanya kecemburuan sosial.
Kebutuhan lapar yang mendencit-dencit seperti tikus
rakus
Dan ekonomi yang mati
Tak ada sebuah pengakuan.
Bahwa kami bagian dari kamu.
Lantas untuk apa kami ada,
Jika jiwa dan juwa kalian hanya untuk kecemburuan
Penghasutan dan pengrusakan moral
Menuntut ekonomimu maju.
Dan . . .
Ya.
Kami memang angkuh,
Engkau yang menyebabkannya seperti itu.
Jika kami diam, maka kami hanya serdadu bodoh.
Yang kau suruh, kau hasut.
Lalu, mau.
Hai,
Para
preman-preman yang pandai berpuisi,
Rangkul
kami, jangan tinggalkan kami
jangan
hanguskan kami.
Yang
menurutmu bodoh ini.
Para
petua-petua yang pandai menasihati,
Bantulah
kami menjalani perjalanan ini
Bukan
hanya kami yang berkepentingan
Kalian
tentu sangat berkepentingan
Entah
kepentingan kalian apa,
Aku
tiada menahu
Para
petinggi-petinggi
Profesor,
Doktor, Magister, Sarjana
Jangan
suka membodoh-bodohi
Atau
main hakim sendiri
Bimbinglah
kami yang sekenanya mengkreasikan wajah negerimu ini
Agar
kami tidak semakin rapuh
Para
pegawai-pegawai
Bagian
perlengkapan, tata usaha, perpustakaan, kebersihan
Bekerjalah
dengan keikhlasan hati
Jangan
engkau mengeluh pada kami
Kami
tidak butuh keluhanmu
Yang
kami butuh kerjasamamu
Bukan
butuh cemberutmu




R.H.S

Merpati Putihmu

Merpati Putihmu
Aku yang terpendam oleh teriknya mentari
Enggan keluar dari pintu surga
Meski merpati-merpatimu telah merayu
Di pelataran taman mungilku
Aku yang selalu mengumbar senyum pada dunia
Masih saja lengah tentang merpatimu yang suci itu
Apakah aku mulai tergoda?
Hingga fikiranku mengelabu menjelma warna sejati
Aku yang mempunyai rasa iba
Terlalu kecut untuk mengulangi cerita tentang
manusia langit
yang diajak Tuhan untuk menapakan kaki di bumi
dengan telanjang kaki maupun beralas kaki
Sungguh, merpatimu begitu sering mengudara di atas
kediamanku
Aku takut dengan bulu-bulu halusnya
yang bertebaran tepat di rongga atap
Mampu menutupi lubang perapian
Terkadang rasa kesalku semakin menjadi-jadi
Sebab, engkau tak kunjung muncul
Hanya bersua dengan nada lirih
Lalu, merpatimu datang beriringan menuju kediamanku
Senyum, bergerak perlahan lalu terbang
Dengan sejuta rasa sabarku,
Aku mulai memanipulasi diriku dengan sebutan Andai
Andaikan aku seperti manusia,
Begitu ekspresif dalam mencari cinta
Andaikan aku seperti manusia,
Suka melupakan batasan-batasan langit
Menceracau seperti burung beo
yang pandai meniru segala bentuk perkataan orang
Andaikan saja aku manusia,
Bebas menentukan sikap
untuk mengarah kanan atau cenderung ke kiri
memonopolikan politik dan ekonomi yang berbasis rasa
sayang
Andaikan wujudku manusia,
Aku mungkin mengharapkan sesuatu yang tidak hierarki
Mencari teori penuntun pada kesetaraan
Aku tidak suka ketimpangan
Andaikan aku seperti manusia,
Mungkin aku akan menjadi kritikus
Yang berangsur-angsur menghilang
Layaknya pulau-pulau yang habis dikeruk
Andaikan aku seperti itu,
Aku mungkin lupa dengan merpati-merpatimu
Sebab manusia selalu lupa pada dirinya sendiri
Bahkan pada asal mula diciptakannya

R.H.S