Ketika Sehelai Daunku Jatuh

Ketika Sehelai Daunku Jatuh

Baru kali ini aku merelakan sehelai
daunku jatuh.

Tetapi, daun di tubuhku ini tidak hanya satu.
Terdapat ribuan bahkan jutaan helai yang menempel
padaku.

Aku sangat bahagia saat dedikasi-dedikasi mereka begitu
tinggi.

Aku tersenyum dengan mereka yang muda.
Tahan angin topan dan hujan.
Padahal aku belum tentu sekuat mereka.

Wahai bagian tubuhku yang melekat.
Jangan lagi takut meranggas dan terjatuh di tanah.
Karena dengan jatuhnya engkau,
Itu artinya jatuh pula air mataku.


R.H.S

Masih Politik

Masih Politik

Setahun sejak adanya Masehi,
sajak tentang kemerdekaan tak lagi mengeluar.
Entah penduduk dunia yang telah merdeka seutuhnya.
Atau mungkin singgasana para teknokrat yang
menjepit-jepit mereka.

Modus.
Aku tak tahu.

Pada sebuah keterikatan,
zaman dengan zaman selanjutnya ada keterkaitan.
Dengan pakem hasut-menghasut gaya bonaparte.
Kata siapa.
Aku tak tahu.

Manusia yang menghubung secara hori dan verti,
mulai lalai mengkorupsi lingkungannya.
Politik tegur sapa katanya.
Bubarkan saja.
Aku tak tahu.



R.H.S

Sajak Seorang Tahanan

Sajak Seorang Tahanan

Kumelihat perhatianmu kepadaku dari
balik jeruji besi.

Sambil mengunyah roti yang diberi pak sipir tadi pagi.

Kadang roti ini tak ku makan.
Sentuh bagian muka saja tidak.
Biasanya kubiarkan agar dilahap oleh binatang lapar.
Bisa.
Tikus.

Dengan setelan compang-camping,
ku selonjorkan kaki yang tadi pagi keram.
Terkena lilitan syaraf.
Leher.
Bersitegang.

Malamku serasa siang.
Dan siang hariku terasa tak bermalam.
Maklum.
Aku tahanan.

Aku habiskan waktu.
Tidur pulas.
Tidak ada yang membangunkan.



R.H.S

Iya!

Iya!

Sampai pada kesimpulan.
Seharusnya kau pandai memahami,
bahwa semua yang kau sangsikan kepadaku adalah tuduhan
yang tak beralas.

Sengketa pemikiran,
perampasan otak,
perajaman kebenaran demi kebenaran.
Itu menggambarkan tentang kecintaanmu kepada kami.
: iya

Masih saja membutakanmu.
Akan perihal yang sebiji zarah itu.
Begitu indah pernyataan cintamu pada kami.
: iya

Aku harap engkau benar-benar cinta kepada kami.
Orang yang tak bisa melihat kau meneteskan air
mata.

Kami cinta kau.


: masalah lama



R.H.S

Sebuah Memo

Sebuah Memo 

Kelereng-kelereng adikku,
masih tersusun rapi di dalam kaleng susu bekas.
Ku teringat pada sebuah memo yang diberikannya padaku.

“Ayah pergi dengan mata tertutup. Aku pun akan
pergi dengan mata tertutup. Sempatkanlah menyiapkan matamu dahulu. Sebelum kau
pergi dan tak akan kembali.

Susunlah layaknya kelereng-kelerengku. Meski bertempat
gelap dan sempit. Akan bertahan sampai tenggat waktu yang lama.”

Terakhir kali ku mengingatnya,
ku meneteskan air mata.
Kehilanganku.
Susunan yang tidak teratur.


R.H.S

Surat untuk Tukang Parkir

Surat untuk Tukang Parkir
: untuk bapak tukang parkir

Peluitmu sudah tua ya.
Sampai tiupanmu tak lagi menggema. Menyeruak ke segala
aspek pemerintahan. Di pinggiran jalan kota.

Topimu juga sudah berkerak.
Tidak layak untuk kau kenakan.Malah mencoreng wajah
lugasmu.

Enggan melindungimu dari serangan surya.

Seragammu juga sudah mulai luntur nampaknya.
Warnanya pudar dan berubah menjadi banyak warna.
Bunglon.

Pasti digunakan untuk mengelap dinding kotor.
Budak.

: bapak ini bukan tukang parkir,tetapi orang yang
memarkir

Doaku Dalam Harapan

Doaku Dalam Harapan


Untuk adik-adikku yang
selalu menyapa cahaya,



Aku tahu kalian sedang dirundung keandaian. Aku tahu
kalian sedang menafsirkan angka baik dalam hidup. Aku pun tahu bahwa kalian
sedang mengadu kepada Sang Penentu takdir.



Adik-adikku yang bercahaya,



Ambil satu dari sekian banyak peluhmu. Ambil satu makna
yang kalian anggap teramat dibutuhkan. Jangan ambil peluh yang tidak berguna
untuk kalian simpuhkan kepada-Nya. 



Adik-adik cahayaku,



Semboyankan bahasa indah. Aku yakin akan menggugurkan
lara


R.H.S

Senyuman Merah Muda

Senyuman
Merah Muda
Entah
ilusi atau fatamorgana
dari
hadap ku melihat
Parasmu
dengan berjuta bunga yang merekah
Begitu
banyak daun yang tak pernah melepas keluh wajahmu
Sederhana
saja jika aku mulai menggerutu
Karena
gaduh yang bukan kepalang mengerumuni fikiranku
Mengencangkan
syaraf-syaraf nirwana
yang
kelak membuatku teramat gundah
Guratan
senyum yang kau goreskan di semerbak melati
Tidak
pernah hilang
juga
terang matamu
Selalu
kusangsikan sebagai keniscayaan
Ada
waktu dimana kawah pipimu dapat terekam
Ada
waktu dimana perantauan jiwa akan selalu berlabuh
Kini
kau menyentuh pekerjaan pena
yang
kau hiasi dengan tertawa atau tertegun
Sebab
kutahu ini hal yang membuatmu memangku tangan
Wanita
dengan hijab merah mudamu
Angkatlah
asa cerlah di samping bunga-bunga yang kusebutkan tadi
dengan
harummu yang mengepul
Mampu
membentuk awan
Bahkan
bintang di dalam qalbu
Petuah
akan selau mangkir
Jika
tak kau jalankan
Laksana
perahu kertas
yang
terombang ambing
di
kerumunan danau teratai
Oh
iya.
Juga
untukmu lembayung nyiur
Kerap
menggoyang nadi-nadi pembatas
Kau
jadikan tekadmu
Setinggi
Brahmana
Sekuat
Syiwa
Tegar
batu karang di lautan

Kemudian,
tersenyumlah jika menurutmu itu indah


R.H.S

Senandung Suri Ramo

Senandung
Suri Ramo
Suri ramo ram
ram de…

Lalu lalang sedan tua
yang kalang kabut di terjang traktor
Sampai terbalik dan hancur.
Dilindas pula.

Kau gores aspal jadi beton.
Kau cakar rumah tua jadi distro.
Kau hempas taman jadi tol.

Suri ramo ram ram de…

Sebangsal dengan paruh baya
yang melulu dibuai cinta
Selalu padu pada tahta dan mahkota
Melupakan wanita di halaman kota

Kau cibir yang patriotik
Kau melega dengan nafik
Kau jaga orang yang mengusik

Suri ramo ram ram de…

: senandung terus jangan berhenti

R.H.S

Duri Musim Semi

Duri
Musim Semi
Terimakasih untuk sebuah ucapan mawarmu.
Yang merekah di tengah kuncupnya kawananku.
Ketika sepi selalu datang dengan perantara duri.

Aku hanyalah sebuah musim semi yang berangsur-angsur pulih,
dari terjangan musim-musim sebelumnya.
Melenyapkan kasih yang tak kunjung tersampaikan pada titik beku tertentu.

Semua yang menjadi kesudahan telah tunggang langgang,
di saat bungaku daunnya gugur satu persatu.
Dan kini telah merekah sebagaimana kau inginkan.

Aku adalah sebuah keterurutan dan kesiapan waktu yang mengundang duri tumbuh
kembali.
Yang menunggu musim lainnya datang menghampiri.
Dengan goresan luka yang semakin abadi.

R.H.S