Aku telah mencacah banyak waktu denganmu
Hingga tak banyak yang tersisa untuk bibir ini bisa terucap
Tiap detik hanya cerca yang kudapat
Menit demi menit serasa tak berkesudahan.
Baiknya aku menahanmu terlebih dahulu
Dari deru gelombang yang tak kuketahui kapan datangnya
Bagaimana dan apa
Semakin tenang aku, makin ku tak mengetahui maksud dari gelombang lautan
yang aku ketahui hanya kau bergerak ke arah berbeda
Dengan kapalmu itu
Aku layaknya sebuah sekoci atau perahu kayu yang dilepas di tengah laut
Dan dengan mudahnya kau memalingkan wajahmu Meninggalkanku tanpa pamit
Padahal perahuku tak memiliki dayung dan layar seperti perahumu
Di dalamnya hanya berisi makanan kaleng dan beberapa kayu yang sudah lapuk
Lalu bagaimana aku mengejarmu?
Gelombang tinggi bisa saja membalikanku waktu itu
menenggelamkan atau bahkan menewaskanku
Namun, ternyata saat ini laut tak ingin mengamuk kepadaku
Bukan karena aku tak mengecewakannya. Aku rasa bukan itu.
Laut masih memberikan aku kesempatan untuk mengejarmu
Kesempatan amat jarang diberikan
Dan benar arus ini jelas mengarah kepadamu
Meski kau sudah tak terlihat lagi
Aku masih bisa mencium aroma tubuhmu dari kejauhan
Semoga itu benar-benar aromamu.
Jakarta, 4 Januari 2019