Tak ada lagi yang bisa kau harapkan
Selain menata kembali kewarasanmu
yang sudah tertutup dengan insiden malam itu
Kebijakan seseorang yang kau kira akan menenangkan hatimu
Rajutan dan sulamannya
Membuat matamu selalu berbinar
Dan mengikuti arah geraknya
Instruksi yang kau anggap akan mengubah kewarasan
Tak lagi mencerminkan dirimu dahulu
Semua hanya menjadi imaji dalam langkahmu yang sedang lunglai
Tertatih
Perlahan tergontai-gontai, lalu dengan mudahnya terperosok
Ke dalam palung dadamu sendiri
Kau tak menemukan hatimu lagi
Sebab di malam itu, dia telah menghilangkan lusinan rasa terhadapku
yang pernah kau pupuk di dalam rongga dadamu
Hatimu telah menjadi tanaman langka.
Tak merambat atau berkecambah.
Tidak pula dapat dirasakan oleh indera manapun.
Jakarta, 22 Desember 2018