Seperti Bunga Kerangka yang Kau Kasihi Itu, Aromanya Tak Pernah Ditanam

 

Seperti bunga kerangka yang kau cintai
Tak lebih seperempat menit kau dengarkan celotehan ku
Lalu kau tidur
Seperti bunga kerangka yang sedari dulu kau banggakan
Aku bersimpuh di tangkainya yang rapuh itu
Lalu kau melamun
Seperti bunga kerangka yang kau kasihi itu
Aromanya tak pernah ditanam
Parasnya sulit kubentuk
Lalu kau pergi,
Dan tak mau menunggu

Jakarta, 14 Desember 2018

Apa Iya Orang Bisa Berubah Secepat Itu?

Waktu yang singkat saat melihatmu hari ini. Tak biasanya aku menepuk hatiku. Sambil ku pegang ingatan tentang kata-katamu yang telah mendebu.

Sejenak aku tak mengalihkan pandanganku terhadapmu. Aku dalam beberapa menit tak beranjak dari tempat ku duduk. Sambil memegang air mineral. Aku berupaya menahan rasa gemetarku yang menjadi-jadi.

Selang beberapa waktu, aku mulai terbiasa dengan gemetar. Sambil dengan lugunya aku memanggilmu. Sekali kau tak meresponsku, dua kali. Kurasa aku harus menyambangimu.

Aku sapa dan kau telah berubah wajah. Apa iya ini ilusi optik. Atau mungkin wajahmu secepat itu tak bisa kukenali lagi. Ah, mungkin aku salah orang.
Aku masih tak percaya. Apa iya orang bisa berubah secepat itu?

Jakarta, 17 Desember 2018

Sewaktu Kecil Aku Sudah Mengagumimu


Pagi-pagi sekali aku telah sibuk mengingatmu
Mencoba mengalihkan pandangan ke arah lapang
Menemukan pohon dan ranting yang baru saja terbangun
Disusul banyak buah-buahan yang jatuh karena sudah masak
Aku ingat betul waktu kita kecil
Puluhan burung hinggap di ranting pohon tusam depan rumahku
Kau coba menangkapnya
Aku sempat memperhatikanmu

Apalagi ketika kau mampu menangkap dua dari puluhan estrildidae
Mataku tak bisa mengalihkan pandangannya kepadamu
Sewaktu kecil aku sudah mengagumimu
Sebab, sejak itu pula aku diajarkan untuk mensyukuri apapun
Baik itu hal-hal yang hanya mampu ku lakukan dari balik jendela
Atau mungkin kuperjuangkan sendiri
Sejak kecil aku suka membaca pikiran sesiapa yang kulihat
Dan kusapa
Walaupun tak selalu kuingat seperti dirimu

Jakarta, 19 Desember 2018

Kau Tak Menemukan Hatimu Lagi

 

Tak ada lagi yang bisa kau harapkan 
Selain menata kembali kewarasanmu
yang sudah tertutup dengan insiden malam itu

Kebijakan seseorang yang kau kira akan menenangkan hatimu
Rajutan dan sulamannya
Membuat matamu selalu berbinar
Dan mengikuti arah geraknya
Instruksi yang kau anggap akan mengubah kewarasan
Tak lagi mencerminkan dirimu dahulu
Semua hanya menjadi imaji dalam langkahmu yang sedang lunglai
Tertatih
Perlahan tergontai-gontai, lalu dengan mudahnya terperosok
Ke dalam palung dadamu sendiri
Kau tak menemukan hatimu lagi
Sebab di malam itu, dia telah menghilangkan lusinan rasa terhadapku 
yang pernah kau pupuk di dalam rongga dadamu
Hatimu telah menjadi tanaman langka. 
Tak merambat atau berkecambah. 
Tidak pula dapat dirasakan oleh indera manapun.

Jakarta, 22 Desember 2018

Kau di Sebuah Semenjana

 

Kau di sebuah semenjana
Memunculkan serpihan sajak yang tersembunyi
Tidak kau tuliskan dalam tutur yang manis
Tenang, tak bergelombang
Kau di sebuah semenjana
Terasa seperti resep yang ibu hidangkan untukku
Biasa, namun tak akan bisa tergantikan rasanya
Kala berdua dan bercerita
Kau di sebuah semenjana
Tidak sedikitpun mengekangku
Padahal guru-guru selalu mengawasiku
Menceramahiku bahkan menuntutku
Semenjana, kau selalu seperti itu
Tak merespons sesiapa
Hanya bertindak adil untuk siapapun
Terlalu peduli pada banyak orang
Meski selalu diremehkan

Jakarta, 23 Desember 2018

Hari-Hari ini Aku Membutuhkanmu

 

Hanya dirimu
Tempat paling nyaman untukku mengingat
Padang dari dua atau tiga tahun lalu yang kelabu
Waktu di saat aku mulai mengganti rajutan berpikirku
Hanya dirimu
Tempat ku menangis dan menjelaskan banyak benang yang semakin ruwet, bahkan putus
Walau telah ku simpan berpintal-pintal
Habis dalam waktu sekejap

Hari-hari ini aku membutuhkanmu
Sebagai penanggungjawab rajutan itu
Memastikan tak ada benang yang habis
Tak ada cinta yang tiada dalam setiap rajutannya
Hari-hari ke depan aku terus mencarimu
Menanyakan tentang pakaian mana yang pas untukku
Berdasar apa yang menjadi pintamu saat merajut pakaian itu
Utamanya tentang diriku ini
Bersamamu.

Jakarta, 25 Desember 2018

Keraguan Macam Apa Ini

 

Mengapa aku sekarang meragu?
Padahal sudah sekian kali aku melewati kejadian ini
Semua hal tentang imaji 
yang tak pernah sampai sejengkal pada ekspektasiku
Kau selalu mendahuluiku
Mengapa aku sekarang meragu?
Sebab sehasta saja tak pernah ku mampu mengejarmu
Telapak tanganku terus meraihmu 
dengan badanku yang telah tersungkur di tanah
Wajahku menghadap kepada bumi ini
Mengapa aku sekarang meragu?
Ketika bayangmu telah sampai di pelupuk mataku
Bahkan seraya aku merapal doa-doa
Aku masih tak kunjung jua menggapaimu
Sebenarnya keraguan macam apa ini.

Jakarta, 26 Desember 2018

Apa Ini Momen Terindah?

Apakah bertemu denganmu disebut sebuah momen termanis kita?
Apabila tertawamu saja sudah direncanakan
Pertukaran cerita selama seminggu lalu pun hanya transaksional
Pulang ke rumah masing-masing seperti robot tak berperasaan
dengan lupa yang semakin kronis
Lalu, bagaimana bisa hal itu disebut momen terindah kita?
Apabila saat turun kendaraan kamu memasang wajah lugu
dan langsung berjalan terburu-buru
Seakan ada yang sedang menunggu
Melebihi pertemuanmu denganku
Pengorbanan dan perjuangan itu hal yang mudah dikatakan, sulit dilakukan. 
Mudah dinilai, minim penghargaan.

Jakarta, 28 Desember 2018

Kupikir Kau akan Tetap Sehat

 

Sebaik-baiknya aku adalah yang mendoakanmu 
Seburuk bagaimanapun perlakuanmu padaku
Sebenci apapun dirimu terhadapku
Aku selalu menggunakan kedua tanganku 
dengan mendoakanmu
Di pagi menjelang siang
Pada sore menjelang malam
Waktu itu di persimpangan jalan
Tempat lampu-lampu gemerlap dan suara bising kendaraan
Meski tak menemukanmu,
Aku menemukan harapan dari banyaknya jalan 
yang kulewati dan kupilih sendiri
Kupikir kau akan tetap sehat. 
Walau tak melulu aku di sisimu. 
Meski kabar hanya datang saat harapan sudah hilang.

Jakarta, 31 Desember 2018

Kau yang Membantu Mendorongnya

Tak bisakah kau mengingat apa yang terjadi pada vespa-ku waktu itu
Tentang ucapan-ucapan manis yang mendalam
Kau membantu mendorongnya
Sambil mengatakan aku akan menemanimu
Aku pula yang akan mengantarmu sampai ke bengkel terdekat
Tenang saja, sayang.
Namun, tetiba kau berjalan dengan lambat dan semakin lambat
Kau tak lagi sanggup menggapai jalan yang berat bersama vespa-ku
Aku pun tak tega memberatkanmu agar terus mendorong kendaraanku ini
Kendaraan yang mungkin banyak orang katakan telah usang
Lalu, aku berjalan maju. Bukan untuk meninggalkanmu.
Aku bergerak sesuai apa yang aku butuhkan. 
Bukan tentang apa saja yang kau inginkan.
Sejak awal aku tak pernah memintamu untuk mendorong vespa-ku.
Tetapi, kau yang memaksa masuk ke dalam duniaku.
Menikmati harumku, atau mungkin paksaan-paksaan yang melebihi kemampuanmu.
Sejak itu aku mengkhawatirkan keadaanmu 
Teramat khawatir.
Sudah sampai mana kau mengingatnya?

Jakarta, 5 Januari 2019