Sejauh bisu tak menjadi kelu, seberapa pijakan tak pernah menghentikanmu melangkah. Aku menamaimu keadaan. Tempat ku berbaring dalam genggaman tangan yang masih kuat. Tak ada asa yang tercipta untuk diagung-agungkan. Apalagi sampai menghardiknya. Kukira kau akan menerima getah dari pohon yang sama sekali engkau tak harapkan keberadaannya. Kau menerima kelengketan dan hal-hal yang membuatmu bersandar di tempat yang sama. Getah-getah itu membuatmu tak menjadi apa-apa. Bahkan hingga saat tuamu datang. Kau menjelma kecewa yang tak ubahnya seperti engkau-engkau terdahulu. Kau membuat diriku iba atas semua kekecewaan dalam hidupmu yang kau tuangkan dalam uraian-uraian khasmu.
Aku bersimpuh pada sebuah gunung tempatku mencari sisa dan jejak-jejak namamu yang hampir tak pernah ku bayangkan bentuknya. Tak pernah ku tahu asalnya. Aku hanya berharap pada setiap telaga yang mampu meneduhkanku dari kepenatan hidup. Di sisi-sisinya tumbuh pohon rindang yang tak pula pernah kau ketahui apakah memang pohon itu tumbuh dan hidup begitu saja. Yang kau percaya adalah anganmu untuk menemukan keteduhan.
Selayaknya manusia di belahan bumi manapun, aku tak menjadikan sebuah angan-angan sebagai Tuhan dan semerta-merta menuhankan apa saja yang diinginkan. Aku tak pernah paham apabila setiap darimu bukanlah diriku yang satu. Dan aku selalu bertanya-tanya mengapa engkau tak menjadi aku saja. Memberikan kesempatanku untuk menjadimu.
Apabila kau pernah mendengar negeri yang indah. Mengapa engkau tak pernah hidup dalam derita? Padahal aku selalu menjalani penderitaan yang tak kau rasakan. Atau mungkin kau hanya menutupi setiap penderitaanmu yang mungkin juga lebih parah dariku. Namun, kemungkinan-kemungkinan tersebut harusnya dapat dikaji kembali bahwa sebenarnya memang engkau tak pernah menderita. Sesekalinya penderitaanmu ya hanya pada saat kau menemuiku. Kau menemukan kegersangan di tengah paru-paru dunia. Kata orang, paru-paru dunia ada disini. Di tempat adanya hutan yang tak akan habis tujuh turunan. Tempatku menjalani hidupku.
Aku rasa hutanku tak pernah menjadi apa-apa. Bukankah kau yang telah mengambil hutan-hutanku dan menggerogotinya satu persatu. Sudahlah jujur saja. Aku tak perlu alasan dan pembelaan darimu. Kau tak pernah tahu betapa beruntungnya dirimu dari segala kemewahan yang tak pernah kudapatkan di tempatku berpijak. Dari kilas balik kasihku kepada asa dan angan-angan yang hampir tak pernah muncul. Sekalipun tak pernah.
Kau datangkan sebuah ekspansi besar-besaran dari tempatmu berasal. Sebagai hadiah yang tak pernah aku lupakan. Sebab kau telah membuat bekas yang tak mungkin dapat kau sembuhkan. Bekas itu ada pada lesung pipiku yang tak lagi membentuk lesung pipi. Kau tak pernah ingat tentang bagaimana kita merajut asa. Bukan hanya aku. Kau pura-pura lupa tentang hitungan langkah yang kau dan aku asah bersama-sama. Kau dengan teganya datang tanpa membawa ketulusan hati. Sebagaimana kau telah simpan sesuatu itu di dalam rakmu bersama sepatu-sepatu usang. Adakah ketulusan hatimu di sejajarkan dengan alas kakimu?
Lalu, kumulai setiap sesuatu yang kau sejajarkan dengan kaki menjadi sandaran dalam penentuan hidupku untuk ke depannya. Aku tak pernah hentinya mencari sebuah keyakinan hati pada diriku yang tak percaya bahwa engkaulah yang melakukan semuanya. Aku sadar dan paham bahwa kau membentuk hujan-hujan orografis dari puncak tertinggimu. Memberikan aku dan kawan-kawanku sebuah kesempatan. Sayangnya hujanmu hanya datang di saat kau benar-benar berada di puncak tertingginya. Selain itu, aku hanya merasakan hujan-hujan buatan. Dari beberapa pesawat yang menghiasi angkasa dengan asap dan kepulan bau yang tidak sedap. Aku pun baru tesadar bahwa pesawat-pesawatmu itu pun hanya berusaha memadamkan api. Api yang telah membakar hutan-hutanku.
Hujan selalu membuatku terbiasa dalam menghadapi berbagai penyakit dan kedinginan. Saat hujan, tak seorangpun yang mampu membuatku menggigil. Namun hujan yang kau buat tak ayal membuatku amat kedinginan dan sekaligus membuatku gigil. Airnya yang menyentuh tubuhku amat menusuk dan menyakitkan. Pada hal yang suatu itu aku amat mensyukurinya meski amat menyakitkan. Karena hujan-hujan disini tak pernah menjadi berarti. Apalagi bau-baunya yang busuk telah menggenangiku dalam beberapa tahun kau disana. Berbeda dengan air yang kau hujani pada tubuhku. Seluruhnya membuatku sakit. Sehingga dengan sakit itu aku mampu bersyukur.
***
Mengeja sebuah namamu adalah mengingat-ingat kepedihan. Aku tak pernah mengerti kepedihan yang seperti apa. Ketika disebutkan namamu maka seluruh bibirku menjadi lemah. Tak berdaya mengucapakan satu atau dua kata. Aku selalu saja dibuatmu terperdaya. Kau yang berasal dari tempat yang tak pernah menjadi asal keberadaanmu itu. Kau hanya menjelaskan bahwa kau berasal dari sebuah tempat yang amat manis. Semanis madu. Di tempat itu kau membuat manis yang tak seperti biasanya.
Kau tak pernah menambahkan sedikit garam atau sejumlah buah asam ke dalam dirimu. Manismu saja sudah cukup dan tak akan pernah dapat digantikan apapun. Kau selalu saja membangga-banggakan kemanisanmu itu. Karena pada akhirnya yang manis akan tetaplah manis. Tak ada hujan atau fenomena apapun jua yang dapat menggantikan sesuatu yang murni menjadi sesuatu yang selain murni. Begitu juga tentang manis yang telah kau miliki. Madu yang setiap orang inginkan murninya kemanisanmu.
Apabila kau menanyakan tentang keirianku kepadamu. Sudah barang tentu aku amat iri kepada kemanisanmu. Kau yang sedari dulu menjadi sebuah pesona yang selalu banyak orang inginkan keberadaannya. Kau tahu betapa mulianya dirimu di antara aku dan kawan-kawanku disini. Kau dengan izin dan keyakinanmu sendiri mampu menjadikan pohon-pohon mengeluarkan getah, membuat gunung-gunung memancarkan hujan yang nantinya menyebabkan pelangi dan kau dapat dengan mudahnya memancarkan kemanisan madu dalam setiap tetes air matamu.
Dan apa yang harus kuperbuat? Kau sudah amat besar bagiku. Aku telah lama menjadi suatu yang sayu. Telah bertahun-tahun menguncup. Tak pernah menghasilkan buah yang bisa dinikmati banyak orang. Tidak sepertimu. Aku hanyalah orang rendahan yang membutuhkan setiap hujan dari puncak-puncakmu, menginginkan melekat denganmu akibat getah-getah yang kau timbulkan, juga mengharap madu yang telah sejak lama kau hasilkan.
Kurasa hanya pelangi yang dapat menambahkan setiap warna dalam hidupku. Oleh sebab itu, aku tak akan mencari pelangi-pelangi lain di mata orang yang tidak aku kenal. Hanya kepadamulah pelangi yang sesungguhnya termaktub di dalam hatiku. Aku ini hanyalah seorang pengurai. Meskipun yang aku urai selama ini adalah madu-madu yang dihasilkan olehmu. Aku tak menginginkan engkau menjadi sesuatu yang lebih. Aku sudah teramat beruntung menjadi seorang pengurai. Apalagi jika itu menguraikan madu-madumu yang manis itu.
Aku memang tak seberuntung dirimu, tapi akulah orang yang tidak pernah mempertanyakan apa yang orang-orang pertanyakan. Tidak sebagaimanapun kau melihat aku begitu pesimis pada kenyataan diriku. Kau mengabdi pada dirimu yang tinggi itu. Dan aku mengabdi pada engkau yang memberikanku pelangi. Bahkan tepat di pelupuk mataku.
Aku akan memberitahumu tentang sampah-sampah yang menumpuk pada hari ini. Kau tak perlu mengurangi tumpukan sampah yang sudah segunung ini. Sebab memang sudah menjadi tugas pengurai untuk mendaur kembali segala apa-apa yang terbuang bahkan tidak terpakai. Pengurai menjadi tokoh utama di dalam keberadaanmu. Aku tak mau menuntut dan memohon agar sampah-sampah yang kusebut gunung ini menjadi bongkahan mutiara dan emas. Apabila aku mencari dan mencari sebuah tahapan hidup. Aku pasti akan mendapat gunung itu. Yang daripadanya bermunculan daratan emas dan buah mutiara di pohon-pohonnya. Serta mengalir air madu yang kau imingi waktu itu.
Kau tak pernah mengatakan suatu hujan akan terus membahasi diriku ini dengan limbah yang bau nan busuk. Kau membuatku bermimpi tentang aliran madu yang amat harum dan manis. Membuatku mengerti tentang kemanisan hidup. Tidak hanya kebusukan hidup. Kau pula yang mengajarkan pelangi di tengah pegunungan yang kau rancang sendiri. Sebab hujan tak pernah berakhir tanpa akibat dan juga tak pernah bermula tanpa sebab.
***
Begitulah keseharian kami sebagai pemungut sampah plastik. Hari-hari kami penuh dengan wasiat, penuh dengan impian, penuh dengan cita-cita yang begitu tinggi. Tentang memaknai hidup. Adakalanya kami memang dicap sebagai makhluk rendahan. Tetapi, kami selalu melapangkan dada atas segala hinaan itu. Kami habiskan waktu untuk bekerja dan mengais rezeki. Yang penting apa yang kami lakukan tidak melanggar aturan hukum negara dan hukum agama kami. Setiap ada kesempatan untuk menjadi lebih baik—saat kami seharusnya melupakan Tuhan dan menghabiskan setiap menit dengan bekerja—Suara Sang Khalik kiranya lebih nyaring terdengar ketimbang suara perut yang merengek-rengek minta dijejali makanan. Dan kami meyakini itu adalah salah satu kelebihan kami dibanding kalian semua.
Duh manisnya…
Sumber: https://m.kaskus.co.id/thread/5b149be6d44f9ffc6d8b4570
Arsip Bulanan: Juli 2018
Cintaku Tertahan Di Stasiun Manggarai

Manggarai adalah nama salah satu daerah perbatasan antara Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Tempat ini menjadi sangat terkenal ketika setiap harinya ribuan orang memadati tempat yang cukup terkenal sampai sekarang ini. Di Manggarai terdapat stasiun dan terminal yang lumayan besar. Terutama stasiun manggarai. Stasiun ini menjadi transit stasiun yang digunakan dari berbagai arah. Dari Bekasi ke Jakarta Kota, dari Bogor ke Jakarta kota, Depok-Jakarta Kota, dan bahkan dari luar kota sekalipun. Stasiun Manggarai memiliki banyak lajur rel kereta api. Inilah yang membuat stasiun ini menjadi stasiun transitor dari dan ke arah Jakarta.
Kisahku di mulai sejak satu tahun lalu, dimulai dengan kejadian yang begitu aneh. Namaku Tobias. Sering dipanggil Tobi. Aku adalah mahasiswa dari salah satu universitas di Jakarta. Aku adalah mahasiswa yang gemar beorganisasi di kampus. Maka dari itu, kisah ini dimulai dari organisasi yang telah aku ikuti. Organisasi tersebut adalah organisasi pemerintahan kampus dan aku berkecimpung di tingkat jurusannya. Belum sampai tingkat yang lebih tinggi. Aku memang orang yang serius dalam melakukan sesuatu. Serius dalam hal ini bukan berarti kaku, pendiam apalagi pemarah. Serius dalam arti tidak ingin organisasi yang aku ikuti tidak bermanfaat. Sehingga setiap detilnya aku dan teman-temanku ubah menjadi bermanfaat dan membekas di hati.
Singkat cerita, aku telah menjadi kakak senior yang mulai belajar menggiring adik-adiknya yang baru masuk kuliah. Tugasku dan kawan-kawan adalah mengarahkan adik-adik agar ketika menjadi mahasiswa, dapat melakukan hal yang lebih bermanfaat untuk orang banyak. Tidak hanya memikirkan diri sendiri. Sebab, mahasiswa zaman sekarang memang terlalu banyak yang individualis. Kadang-kadang ada yang berkelompok dan membentuk lingkaran. Namun, usut boleh usut, ujung-ujungnya untuk partai tujuan akhir mereka. Bagaimana tidak, setiap kader yang telah lulus kuliah atau bahkan masih kuliah pasti dijaring ke salah satu partai. Tapi, mereka yang berkelompok ini masih saja mengelak. Padahal aku pernah loh menjadi anggota di dalamnya. Hal itu dikarenakan aku curiga sekaligus penasaran. Yah, begitulah aku. Tobi. Namun tak apalah, itu jalan hidup mereka. Aku hanya miris saja.
Kembali lagi ke cerita awal, waktu itu di bulan Desember 2014 aku melihat adik-adik aku yang mulai tumbuh menjadi organisator-organisator yang bermanfaat membentuk kepanitiaan baksos. Hal ini dilakukan sebagai penutup akhir rangkaian pelatihan mereka. Jadi, nantinya mereka bisa masuk menjadi anggota dari organisasi pemerintahan kampus tingkat jurusan itu. Meskipun, setelah itu mereka bebas memilih mau masuk atau tidak. Namun setidaknya acara tersebut dapat membentuk tali perekat di antara angkatan mereka dan angkatan di atasnya tentunya.
Aku awalnya amat malas melihat acara yang hampir setiap tahun ada ini. Dari aku masih menjadi mahasiswa baru aku sudah melihat acara ini. Acara yang amat membosankan buatku, meskipun amat bermanfaat untuk mereka dan pastinya orang yang mendapat bantuannya. Dan aku belajar untuk tidak boleh egois. Lalu, aku mulai bangun jam 7 pagi. Tetapi, tidak langsung berangkat. Aku melakukan aktivitas menulis yang aku lakukan setiap pagi dan malam. Aktivitas itu amat aku gemari sejak SMA. Dan mungkin telah menjadi nafas di setiap hembusan dan sela-sela hidupku. Aku kadang menulis di laptop, handphoneatau di dalam buku catatan yang aku bawa setiap hari. Begitulah aku.
Di sela-sela acara yang berlangsung cukup membosankan itu, di daerah Klender. Ada yang membuatku tertarik. Ya. Pewara/MC yang membawakan acara di depan panggung. Dia begitu ekspresif dan menggoda imajinasiku. Rasanya aku ingin mengobrol dan bercerita banyak dengannya. Memang, sejak dulu aku mencintai wanita yang seperti itu. Aku ingin mengenalnya lebih dekat, dekat dan dekat lagi. Tanpa ada jarak. Dia begitu memukau aku dengan suara khasnya yang berat dengan gaya bicaranya yang unik. Menurutku, parasnya cantik. Kulitnya sawo matang. Tubuhnya mungkin agak kurus, tetapi menurutku cukup proporsional. Karena aku tidak terlalu suka dengan wanita yang gemuk. Dan cantik versiku seperti ini. Aku kemudian bertanya pada teman-temanku yang hadir di acara tersebut. Tetapi tidak ada yang benar-benar tahu tentangnya. Yang mereka tahu hanyalah namanya Diphylea Grayi. Nama yang menurutku jarang. Ya. Itu adalah nama bunga yang transparan bentuknya. Mungkin saja orang tuanya menamai dirinya seperti itu agar kelak nantinya dia tumbuh menjadi gadis yang jujur, bersih dan suci. Aku langsung memikirkan namanya yang indah di setiap saat. Bagiku dia menawan. Oh iya. Dia biasa dipanggilLea. Hanya sebatas itu yang teman-temanku tahu. Ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup sulit buatku. Huuhh…
Langkah awal yang aku lakukan adalah mencari tahu info tentangnya. Aku mulai dari mencari semua hal tentangnya di FB, kemudian twitter, BBM, Path dll. Ternyata aku menemukan nama yang cocok dengannya di FB. Aku cari fotonya dan Yap… aku menemukannya meski lewat jejaring sosial FB. Aku memberanikan diri untuk memulai. Aku mulai mengirimkan pesan kepadanya. Saat itu kami belum berteman. Namun, aku berharap akan segera berteman. Dan ya, akhirnya aku mendapatkan balasan yang baik. Kami berteman. Wah,.. akhirnya kami memulai pertemanan yang lumayan sulit ini. Kami hanya berhubungan lewat FB ataupun twitter. Dan saat bertemu, aku belum berani menyapanya. Kejadian ini berlangsung sampai satu bulan. Yakni di bulan Januari 2015.
Bulan Januari berakhir dengan begitu saja. Tak ada hal yang begitu mengesankan buatku. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin ada satu yakni aku telah mendapat pin BBM Lea dan aku amat berbahagia tentunya. Aku dapat selangkah lebih dekat dengannya. Bukankah ini hal baik?
Bulan Februari, identik dengan bulan penuh kasih sayang. Tak sepenuhnya benar bagiku. Hidupku berjalan biasa saja di bulan ini. Mungkin karena aku juga salah satu orang yang kurang mempercayai dan tidak pernah merayakan hari yang tidak jelas asal muasalnya itu. Yang tiba-tibabooming di masa aku ini. Intinya aku tidak merasakan ini bulan yang berbeda dengan bulan yang lain. Aku memang lahir dari keluarga yang lumayan agamis. Jadi aku tidak pernah dibiasakan hal tersebut. Seperti setiap tahun orang merayakan ulang tahun. Di keluargaku tidak ada perayaan-perayaan seperti itu. Jadi aku tidak terbiasa dengan hal itu. Namun, kembali lagi. ideologiku terpatahkan dengan kemunculan Lea di hidupku sejak dua bulan lalu. Aku selalu memikirkannya dengan serius dan tidak pernah bermain-main. Aku pun tahu tanggal ulang tahunnya, berapa pacarnya dulu, apa hobinya dan banyak hal tentangnya. Aku pun ingin sehari saja berani bertemu dengannya. Tidak hanya dengan sms atau fb, meskipun akhir-akhir ini aku sering menghubunginya lewat bbm.
Di bulan ini, bertepatan dengan ulang tahunnya. Tanggal 5 Februari. Aku menghadiahkan sebuah buku. Hadiah ini mungkin tidak ada apa-apanya dan amat tidak berpengaruh bagi dirinya. Aku pun juga tidak memberikan hadiahnya di hari ia ulang tahun. Aku memberikannya seminggu setelah hari ulang tahunnya. Aku juga mengerti, pasti dia memiliki orang yang dekat dengannya. Orang yang lebih peduli ketimbang aku. Siapakah aku? Aku adalah orang baru yang baru memasuki dunia baru. Dunia tempat Lea tumbuh dan berkembang. Tempat Lea mengabdikan hidupnya. Alasan lainnya karena aku kurang suka merayakan hari ulang tahun. Itu bukan kebiasaan di keluargaku. Ia memintaku dengan kata-kata yang khas darinya, mungkin dalam bentuk pragmatik atau apalah namanya. “ Tobi, kalau mau kasih hadiah ke Gue, harus langsung ya. Ga boleh dititip. Awas aja.” Begitulah inti dari percakapan kami di media sosial. Aku juga mengerti, bahwa laki-laki yang memulai duluan. Entah apa maksudnya dan apa motifnya. Sampai sekarang aku juga tidak mengerti.
Aku yang mendengar perkataan Lea seperti tersulut api. Aku langsung membungkus sendiri hadiahnya. Meskipun tidak tahu sebenarnya benar atau tidak apa yang aku lakukan ini. Setidaknya aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan penting ini. Hari itu memang begitu indah. Tidak seperti hari-hari sebelumnya dan bulan-bulan sebelumnya. Yang hanya bisa menerka lewat kata dan makana percakapan media sosial. Dan itu pun seminggu sekali. Dan aku harus memulai usahaku mungkin dari sini. Meski tidak tahu apakah Lea menyambutnya sesuai denga apa yang aku maksudkan.
Beberapa hari berselang, kami berjumpa, meski hanya beberapa menit. Bahkan tak sampai satu menit. Aku ingat janji pada diriku sendiri bahwa aku hanya ingin memberikan hadiahnya. Aku juga tak mau membuat gosip baru di kalangan teman-teman lain ketika dekat dengannya. Sebab, isu itu akan cepat menyebar jika di jurusanku. Dan alasan terbesarnya pula adalah aku tak mau Lea menjadi jauh dari aku sebab gosip yang nantinya akan berkembang. Ah, yasudahlah. Aku hanya bisa memandangimu dari kejauhan, Lea. Namun aku tetap bahagia.

Waktu berganti begitu cepat, sebagian kata telah habis kuungkapkan pada keistirahan malam. Bagaimana doa selalu terselip dan terajut dalam ibadah yang aku namakan bukan lagi ibadah. Ini hanya kenistaan yang membawa-bawa agama yang aku yakini. Sebab tujuan utamaku untuk terus bersama Lea. Untuk mencintai dan memilikinya sepenuhnya. Aku tahu niat aku teramat buruk. Namun tak apalah, yang penting aku telah sadar hampir sepenuhnya.
Kembali pada awal cerita, Stasiun Manggarai adalah jalur kereta api dan Comutter Line untuk transit dan menaikturunkan penumpang. Apalagi di jalur ini terdiri dari banyak rel. Segala aktivitas di daerah Jakarta Timur dan Selatan sedikit banyak bertumpu di stasiun ini. Stasiun yang amat popular di kalangan pengguna kereta. Di dalamnya ada banyak fasilitas, mulai dari ind*mar*t, K*C corner, Musala, Toilet dan lainnya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengguna kereta dalam menjalani segala aktivitasnya.
“Tobi dimana? Gue udah telat nih. Lama banget sih.” Seperti itulah pesan bbmnya kepadaku. Aku yang tangan kanan memegangstang gas motor dengan cekatannya mengambil HP di sakuku menggunakan tangan kiri. Aku terus melaju dan sesekali membalas pesan dari Lea. Aku tahu itu kebiasaan buruk. Tetapi, seperti hidup ini. Itu semua adalah sebuah pilihan. Dan aku memilih resiko apapun yang akan terjadi. Begitupun saat mencintai Lea. Ahh.. aku telah mengecewakan dirinya hari ini.
Sesampainya di stasiun, Aku langsung ngebut. Menggunakan sepeda motor matic. Aku memacu kendaraanku begitu cepat. Keadaan hening tanpa cerita. Sebab, ini kali pertamanya aku telat menjemput Lea. Dan kali itu juga ia pertama cemberut kepadaku. Di Stasiun Manggarai. Aku merasa amat bersalah. 
Di bulan Mei ini, aku telah menjadi sosok teman yang berusaha selalu ada untuk Lea. Dia menganggapku kakak. Dan aku sama seperti awal. Mengganggapnya orang yang aku cintai. Pada waktu itu, aku memang terlalu percaya diri. Namun, setelah berulang-ulang kali Lea berkata bahwa aku hanyalah temannya. Aku jadi merasa sadar. Bahwa aku memang hanya temannya. Ya. Tidak apa-apa. Lea, kau telah memilih apa yang kau pilih. Dan kau juga harus menerima apa yang seharusnya kau terima di kemudian hari.
Masih di bulan Mei, keadaan menjadi semakin sulit. Ketika suatu saat aku melihat isi dari BBMnya dengan seorang laki-laki. Namanya Tomi. Aku memang teman yang begitu jahat. Mencoba melihat isi percakapannya dengan orang lain. Padahal Lea amat membenci dan tidak menyukai jika HPnya dilihat isinya oleh orang lain. Bahkan oleh orang tuanya sekalipun. Tetapi, aku tak pernah memosisikan diriku sebagai teman bukan? Kendatipun itu anggapannya terhadapku. Aku sedikit egois. Aku sedikit curiga. Aku memang bukan orang yang dapat ia percayai. Memang kenyataanya seperti itu. Aku melakukan hal tersebut dikarenakan tindakannya yang aneh kepadaku. Akhir-akhir ini ia sudah tidak tertarik nampaknya untuk menghubungiku. Aku memang tak terlalu mempermasalahkannya. Karena sedari awal aku hanya mencintai sepenuh hati, meski tidaklah cintanya ditanggapi dengan sepenuh hati pula.
Seminggu sudah bulan Mei berjalan, aku masih begitu amat terpukul dengan isi pesan bbmnya atau mungkin WA nya dengan laki-laki yang menjadi tambatan hatinya itu. Ia amat mesra di dalam percakapan. Aku pun mencurigai mereka memang telah lama berhubungan. Ya. Sebelum Lea mengenalku. Tomi, aku tau dari temanku yang kuliah di kampus yang ia kuliahi. Tomi adalah sosok yang agamis , tampan dan organisator ulung. Dia sekarang sedang mencalonkan diri sebagai ketua majelis tertinggi kampusnya. Dari situ aku juga mulai sadar kembali bahwa aku belum sampai seberapa untuk mencintai Lea. Kendatipun cinta ini sudah terlalu dalam. Seperti pisau yang telah tertancap ke rongga dada. Jika kita telah tertusuk, maka saat dipaksa untuk mencabut, akan dirasakan sakit dua kali. Saat ditusuk dan saat dicabut. Begitupun cinta ini yang telah terlalu dalam menancap di hatiku, kalau pun Lea ingin mencabutnya. Aku akan berkata jangan. Aku sudah tak sanggup sakit untuk kedua kalinya. Aku telah merelakan dia untuk memilih apa yang menjadi pilihannya. Aku hanya malu pada diriku sendiri. Aku dibutakan cinta.
Minggu ke dua Mei, aku jemput ia di rumahnya. Yah. Kami begitu dekat namun bersamaan dengan kedekatan itu, kami begitu jauh. Nampaknya masalah kita sudah berangsur-angsur membaik. Kami sudah saling bertegur sapa. Kami saling bertukar pikiran. Kami kembali sama-sama bahagia. Aku tahu kebahagiaanku adalah mencintainya dan kebahagiaannya adalah mencintai Tomi. Kami saling bahagia dan tidak menyalahkan satu sama lain. Kami melewati rel-rel di daerah Bogor sampai Manggarai, dan dari Manggarai ke kampus. Kami suka berbicara tentang hal-hal bodoh. Sedikit sekali tentang hal-hal pintar dan penting. Kami membicarakan kereta dan peraturan yang ada di dalamnya. Aku tahu berbagai hal tentang kereta api lewat dia. Aku rasa ia sudah sangat berpengalaman. Lea begitu banyak pengalamannya denganku. Dalam hal apapun. Aku menjadi iri kepadanya. Dan kurasa ia bahagia dengan apa yang telah ia lakukan selama ini kepadaku.
Sekarang adalah minggu ke tiga Mei. Ceritaku dengan Lea masih tetap sama. Menjadi teman curhat dan segala sesuatu yang tujuan akhirnya harus membahagiakannya. Bagaimanapun caranya. Mungkin cinta kepada orang yang menganggapku sebatas kakak ini adalah pelajaran untukku dalam menjalani rerumitan hidup selanjutnya. Kereta api. Stasiun Manggarai. Adalah saksi yang tak terbantahkan. 
“Kusadari aku adalah orang yang tak pernah sadar; dan cara ampuh untuk menyadarkan seseorang adalah dengan tidak menyadari kesadaran itu.”
Cerpen Anak: Suri Ramo Ram Ram De
Di tanah Minangkabau, lebih tepatnya sekitar Terusan Kamang. Ada sebuah bukit kecil yang membentang dari utara hingga selatan. Menghalangi daerah Terusan Kamang dengan daerah Bukittinggi. Disana banyak terdapat hamparan sawah yang luas, peternakan dan banyak sekali tambak ikan di sekitar danau buatan itu. Desa dan dusunnya berada di atas air terusan itu. Indahnya pemandangan dengan udara pegunungan yang sejuk. Perjalananku amat lengkap saat aku duduk di sisi danau buatan itu. Hamparan rumput yang nyaman untukku berbaring dan merebah. Dari situ aku Rahman, memulai cerita yang tak bisa aku lupakan.
“Rahman, Anakku… Jangan main jauh-jauh ya. Tetap dekat dengan ibu.” Kata ibu dengan suara khasnya yang lembut. Dan aku pun tidak pernah membantah perkataan ibu.
“Iya, bu. Rahman ingin berbaring di atas rumput itu. Sepertinya nyaman bu.” Kataku sambil bermain dengan bola yang aku pegang.
“Yasudah, kamu di situ saja ya. Ibu mau membeli oleh-oleh. Jangan kemana-mana ya!” Kata ibu dengan tegasnya.
Aku adalah anak berumur 7 tahun. Yang kebiasaannya memandangi senja di ufuk barat. Menyelami indahnya dari beberapa sudut kota. Aku tidak sama dengan anak seumuranku yang biasanya tenggelam dengan gadgetnya yang terbaru. Aku hanya anak umur 7 tahun yang selalu menginginkan keindahan hidup pada masaku. Pesona alam. Aku tahu ini tidak seperti realita kebanyakan anak di negeriku. Namun, apakah aku salah untuk mencoba yang berbeda?
Beberapa menit aku memandangi senja dan kemudian aku menutup mata sejenak untuk lebih merasakan sejuknya tempat ini.
“Jeng… Jengggg…. Suri Ramo.. Suri Ramo…” Suaranya kecil dan makin lama semakin kencang.
“Suri Ramooo… Suri Ramooo… Ram raaaam deee…. Jeng!! Jengg!” suara makin keras dan membangunkanku. Dan akhirnya aku membuka mataku. Ternyata saat aku lihat tidak ada apa-apa. Lalu aku menutup mataku kembali. Dan kejadian itu terulang lagi. Berulang kali.
“Pengumuman! Pengumuman! Raja Na Banyo akan segera datang… Seluruh rakyat kerajaan Kamang diharapkan berkumpul. Baginda ingin membacakan titahnya.” Suara yang amat kencang dan membuatku terbangun dan lari bersembunyi di semak dekat Danau itu.
“Saudara-saudara! Baginda kita, Tuan Datuk Na Banyo ingin membacakan titahnya. Seperti yang kita tahu, titah raja adalah segala daya yang nomor satu yang kita punya. Sebab, raja adalah pemimpin kita di dunia ini. Maka dari itu, sebagai rakyat yang patut terhadap pemimpinnya kita seharusnya mendengarkan dengan khidmat titah yang akan dibacakan beliau.” Suara dari menteri seperti menggelorakan semangat rakyat yang berkumpul di atas perahu di Danau buatan tersebut.
“Suri Ramooo… Suri Ramooo… Ram raaaam deee!!! Hidup Baginda Rajaaa!” Salah seorang berteriak. Kemudian yang lainnya juga menanggapi.”Hiduuup, Bagindaaa!!!” Sorak sorai rakyat kerajaan tersebut.
Kemudian, Raja naik ke atas mimbarnya yang didampingi oleh menteri dan bangsawan yang ada di kanan-kirinya. Dengan langkah khas pemimpin tertinggi, ia menyapa keseluruhan pendampingnya tersebut dan memberikan salam kepada pejabat dan bangsawan tersebut. Lalu setelah itu, Sang Raja memulai pembacaan Titahnya.
“Suri Ramoo Ram ram de! Salam selamat untuk seluruh negeri yang mashyur dan amat kucintai. Seperti indahnya ciptaan Tuhan yakni alam dan seluruh isinya. Kita teramat beruntung bisa mencicipinya. Menjadikan kekayaan alam ini anugerah bagi manusia yang menikmatinya juga merusaknya. Untuk itu, saya Raja Na Banyo dari kerajaan Kamang, ingin membuat titah kepada kita semua tak terkecuali saya sendiri. Titah saya berisi peraturan tentang menjaga kebersihan lingkungan sekitar danau. Dan selalu merawat kelestariannya hingga nanti anak cucu kita besar dan memiliki turunan selanjutnya dapat menikmati danau ini terus. Terusan Kamang. Jika ada yang melanggar dan mengotori sekitar danau ini, maka sebagai hukuman yang berat. Yakni mereka akan menerima kutukan dari Rakyat dan Danau ini.” Suara Raja yang begitu meyakinkan dan membuat rakyatnya tenang telah selesai. Dan titah pun sudah dibuat. Tidak ada lagi yang bisa melanggarnya. Karena titah Raja adalah Mutlak.
Setelah titah raja, kehidupan rakyat semuanya berlangsung normal dan tidak terganggu sama sekali. Semua rakyat memahami dengan sepaham-pahamnya dan tidak ada yang melanggar titah Raja. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku pun seperti bingung sendiri harus melakukan apa. Setiap harinya aku memandangi senja. Dan aku melakukan aktivitasku bersama Ibu dan anak-anak yang sudah terpengaruh oleh demam Gadget. Mereka sudah tidak mau peduli dengan alamnya. Mereka mematuhi titah Raja karena memang mereka takut dan tak mau dihukum. Padahal aku tahu, di dalam hatinya tidak ada yang mereka dapat. Menjaga kelestarian alam dan mengkhidmati keindahannya tidak sama sekali mereka rasakan di dalam hati.
Setahun berlalu sejak titah Raja Na Banyo, keadaan masih sama seperti saat dibacakan Titah. Semua masih berjalan sesuai fungsi dan keberadaannya. Namun, saat datang sekelompok orang yang menamakan dirinya “No Jungle True” tidak ada yang bisa dilakukan sang Raja. Kelompok ini adalah utusan dari Raja Negeri (Rajanya para raja) yang memiliki misi tertentu. Misi dari Raja Negeri ternyata ingin membumi hanguskan hutan dan danau buatan kerajaan Kamang. Ia ingin membuat rumah makan dan gedung-gedung tinggi. Karena tempatnya yang strategis dengan daerah Bukittinggi.
Karena mereka utusan dari pemimpin tertinggi, maka kelompok ini dengan enaknya merusak dan membuang sampah sembarangan di danau. Mereka melakukannya hingga berbulan-bulan. Apa hendak dikata, Raja sudah sering membuat surat kepada Raja Negeri namun tidak dibalas apalagi dibaca. Raja Na Banyo bingung dan memutar akalnya. Namun, tidak ada pikiran di otaknya. Sampai akhirnya sampah telah menumpuk dan sudah tidak enak dipandang mata. Hutan-hutan dirusak diubah menjadi pemukiman yang tidak kunjung jadi. Keadaan amat mengkhawatirkan.
Aku dan Ibu dalam keadaan bingung dengan keadaan kerajaan ini. Mulai mencoba memikirkan sesuatu. Sebab, sudah buntu mungkin para pejabat dan bangsawan. Karena keputusannya sudah disumbat dengan pemimpin tertingginya tersebut. Mereka hanya wajib mematuhi peraturannya. Tidak ada yang boleh melanggarnya.
Akhirnya aku dan ibu membuat pertemuan dengan raja tanpa sepengetahuan kelompok itu. Dan kami sepakat untuk mencoba usaha ini. Raja membuat parade penghormatan terhadap leluhur danau buatan ini. Sebab, danau ini terbentuk tidak serta merta dibuat oleh tangan manusia tetapi oleh tangan leluhur. Kami mempunyai siasat untuk membuat replica ikan besar yang muncul dari dalam danau. Sehingga saat kelompok itu mengikuti parade mereka akan takut dan lari dari kerajaan kami. Karena keangkerannya.
Tak sampai satu minggu, untaian dan jahitan kain yang menyerupai ikan besar itu pun selesai dibuat, tanpa sepengetahuan kelompok tersebut. Nampaknya kita telah berhasil mengecohnya. Mereka dibuat lari tnggang langgan saat melihat ikan raksasa muncul dari bawah danau dan hendak memakannya. Kelompok tersebut lari tunggang langgang. Dan kami seluruh rakyat bersorak sorai atas kemenangan kami mengusir penjajah suruhan Raja Negeri. Dan setelah itu tidak ada yang mengganggu kami hingga pergantian raja ke raja baru. Mungkin Raja Negeri juga tidak berani mengganggu leluhur kami yang senantiasa berseru untuk menjaga dan merawat kelestarian daerah kerajaan kami. Semua rakyat dipimpin Raja Na Banyo selalu bersorak sorai “Suri Ramo Ram Ram De!!! Suri Ramo Ram Ram De!!!” Dan dengan semangatnya menggelorakan kemajuan kerajaan selanjutnya. Rakyat pun teriak “Hidup Kerajaan Kaman! Hidup Raja Na Banyo! Suri Ramo Ram Ram De!!!” suara itu langsung Cumiakan telingaku kembali. Lama-lama suara itu perlahan pergi. Dan tidak kedengaran lagi.
Tibalah suara Adzan Maghrib, yang mengartikan senja telah berakhir. Aku membuka mata dan melihat sekelilingku. Ada suara angina yang menderu memasuki setiap tubuhku. Dan tidak lama kemudian suara Ibu memanggil.
“Maaf ya Nak, menunggu lama. Ibu baru selesai belanja. Tadi bertemu tetua adat desa ini. Ia menceritakan banyak sejarah dan Mitos dari Terusan Kamang ini. Dan ibu mencoba menyimaknya.” Kata ibu seraya membuat perbincangan kita menarik.
“Iya, Bu. Tidak apa-apa. Rahman, juga mimpi tentang Terusan Kamang. Sungguh menakjubkan mimpinya, Bu!!” Kataku begitu bersemangat sambil digandeng oleh ibu menuju mobil ayah. Beberapa waktu tadi Ayah memancing di danau itu. Dan rupanya dia sudah selesai. Dan mendapat lumayan banyak ikan.
Memang, kesadaran itu dapat disampaikan melalui media atau sarana apapun. Dalam bentuk nyata maupun tidak nyata. Namun, dalam hal ini aku telah mendapatkan pengalaman yang tidak pernah dilupakan dalam hidup. Beserta mimpi yang tidak aku sangka.Suri Ramo Ram Ram de!!!
