Sajak VI

800×600

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Sajak VI
Aku selalu ingin menjadi seteguk madu.
Manis.
Tersimpan untukmu di secangkir air hangat.
Supaya kau tidak batuk;meraung di
hadapanku.
Aku selalu ingin menjadi kembang lelapmu.
Mawar.
Seperti engkau menjaga mawar. Yang
senantiasa hidup tanpa kau sadari.
Tanpa kau ketahui.
Aku selalu ingin berbuat abdi. Sopan.
Ketika kau menjadi bertanya. Tentang apakah
yang aku sembunyikan.
Memang aku sangat benci pada yang ku
sembunyikan.
Aku tak suka kau tak tahu apa yang kutahu.
Makanya kau harus tahu dan bertanya.
Aku selalu ingin menghiburmu. Senyum.
Meski itu hanyalah pengumpama. Dari lesung
pipitmu yang curam.
Menarikku kepada dimensimu. Yang hanya
kita  berdua melewatinya.
Bukan yang lain.
Aku ingin menjadi keselamaannya. Abadi.
Tidak akan sulit jika kita mempunyai tali.
Tali dari baja. Kuat.
Yang mengaitkan aku dan kau.
Dalam genggaman tangan berdua; Aku dan kau.
Ya.
 Secoret
aku dalam tetes hujan yang kau turunkan kepadaku.
Aku adalah kebahagiaanmu. 
Tahu.

R.H.S

   foto: iphonesia.com

Tinggalkan komentar