Memoar ke-2

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

Ku berkendara dalam hujan
Pada namamu
banyak orang sering perbincangkan
tak sedikit yang terpukau
Kau yang setiap orang melihat matamu
Terdapat perasaan untuk ingin tahu
Pada parasmu yang selalu mereka fikirkan
Menjelma manusia yang begitu sempurna
Dan aku bertanya pada setiap potongan
tubuhku
Manakah yang menjadi bagian dari tubuhmu?
Yang mengoperasikan setiap geraknya pada
sebuah engkau
Karena aku teramat buruk dalam menerka
Ku mulai menghentikan kendaraanku
Sebab kaki yang tak bisa lagi berpijak
Pada tuas pengendalinya
Telah lesu
Ketika matari menyongsong di atas kepalaku
Melihat sebuah cintaku yang berjalan
Berangsur pergi
Mengikuti arah sinar terik itu
Kau yang mencintai pusat cahayamu
Dan aku yang mencintai bayanganmu
Dalam keadaan yang begitu jelas
Aku mencintaimu.
Bekasi, 25 April 2015
R.H.S

Tinggalkan komentar