Memoar ke-3

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

: pasti berlalu
Kau adalah yang pertama membuatku jatuh
Dalam dekapan yang amat erat
Sewaktu itu.
Dan kau adalah yang pertama membuatku
gemetar
Dalam dinginnya malam
Sekujur tubuhku kaku.
Bekasi, 26 April 2015
R.H.S

Memoar ke-2

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

Ku berkendara dalam hujan
Pada namamu
banyak orang sering perbincangkan
tak sedikit yang terpukau
Kau yang setiap orang melihat matamu
Terdapat perasaan untuk ingin tahu
Pada parasmu yang selalu mereka fikirkan
Menjelma manusia yang begitu sempurna
Dan aku bertanya pada setiap potongan
tubuhku
Manakah yang menjadi bagian dari tubuhmu?
Yang mengoperasikan setiap geraknya pada
sebuah engkau
Karena aku teramat buruk dalam menerka
Ku mulai menghentikan kendaraanku
Sebab kaki yang tak bisa lagi berpijak
Pada tuas pengendalinya
Telah lesu
Ketika matari menyongsong di atas kepalaku
Melihat sebuah cintaku yang berjalan
Berangsur pergi
Mengikuti arah sinar terik itu
Kau yang mencintai pusat cahayamu
Dan aku yang mencintai bayanganmu
Dalam keadaan yang begitu jelas
Aku mencintaimu.
Bekasi, 25 April 2015
R.H.S

Memoar ke-1

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

Aku yang bertahan dalam kosongmu
Ketika dedaunan  mulai bergoyang
Ranting-ranting mulai gemetar
Dan batang tetap pada kekokohannya
Akar yang masih membutuhkan tanah tempat
memijak
Aku yang bertahan dalam sunyimu
Layaknya angin yang mengiba setiap hari
Tanpa ada jeda dalam detik dan menit
Menemani di siang dan malam
Pada hujan dan kemarau
Aku yang bertahan dalam kenanganmu
Tanpa riak suara air terjun
Tanpa aliran yang amat deras
Aku tetap memilih untuk seperti ini
Tetap tenang, gundah, nyeri.
Aku yang bertahan dalam tawamu
Perhiasan terindah yang aku lihat
Adalah kebahagiaan tanpa syarat
Tanpa ada yang menjadi lain
Dari gurat senyummu itu
Aku yang bertahan walau tak ada yang
menahan
Aku bimbang walau tak sedikitpun engkau
bimbang
Aku mengeja pada dirimu yang terlalu hafal
Aku bertahan. Bertahan.
Bekasi, 24 April 2015
R.H.S

Sajak X

800×600

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Sajak X
Bukan aku ingin banyak bicara.
Karena kata ini sangat sulit untuk terucap
sebelumnya.
Pada masa yang lalu.
Tetapi, aku yakin dan pantas untuk kau
baca.
Entah pagi yang bagaimana
yang 
aku butuhkan.
Entah embun yang seembun apa
Yang aku rasakan.
Hanya kau yang aku ingat.
Ketika melihat matahari muncul,
Begitu ku teringat pada senyum simpul yang
kau berikan.
Ketika ku ayuh kuda besi tadi,
Masih membayangkan begitu indah perilakumu
terhadap manusia ini.
Jika memang barisan pagi,
Embun,
Dan keadaan sekelilingku
Dapat aku simpul.
Maka kudapatkan sejelas-jelasnya sosokmu.
Membekas.
Bahagia.
R.H.S

                                                                             

 foto: https://umrohsamara.com/embun-pagi/
                                                                                    

Sajak VI

800×600

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Sajak VI
Aku selalu ingin menjadi seteguk madu.
Manis.
Tersimpan untukmu di secangkir air hangat.
Supaya kau tidak batuk;meraung di
hadapanku.
Aku selalu ingin menjadi kembang lelapmu.
Mawar.
Seperti engkau menjaga mawar. Yang
senantiasa hidup tanpa kau sadari.
Tanpa kau ketahui.
Aku selalu ingin berbuat abdi. Sopan.
Ketika kau menjadi bertanya. Tentang apakah
yang aku sembunyikan.
Memang aku sangat benci pada yang ku
sembunyikan.
Aku tak suka kau tak tahu apa yang kutahu.
Makanya kau harus tahu dan bertanya.
Aku selalu ingin menghiburmu. Senyum.
Meski itu hanyalah pengumpama. Dari lesung
pipitmu yang curam.
Menarikku kepada dimensimu. Yang hanya
kita  berdua melewatinya.
Bukan yang lain.
Aku ingin menjadi keselamaannya. Abadi.
Tidak akan sulit jika kita mempunyai tali.
Tali dari baja. Kuat.
Yang mengaitkan aku dan kau.
Dalam genggaman tangan berdua; Aku dan kau.
Ya.
 Secoret
aku dalam tetes hujan yang kau turunkan kepadaku.
Aku adalah kebahagiaanmu. 
Tahu.

R.H.S

   foto: iphonesia.com

Sajak IX

800×600

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Sajak IX
Aku cemburu kepadanya,
Sebab dia mampu meredakan amarahmu.
Aku cemburu: hujan
Saat hujan menyentuh tubuhmu.
Hingga basah dan terkulai.
Waktu itu.
Tetapi, aku tetap rindu: hujan.
Ketika itu kemarahan hujan sedang
menjadi-jadi.
Lalu, aku dan dirimu bersama.
Dekat trotoar.
Memadu kasih, dalam lindungan atap rumah
yang sedikit.
: tetap basah
Kami berlinangan air: kuyup
Namun, kami terus saja memandang.
Seakan raga kami menyatu.
Cinta.
Karena hujan.
R.H.S

Puisi VIII

800×600

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Puisi VIII
Pada suatu hari yang biru,
Aku mencoba untuk sekali saja dikalahkan
keadaan.
Meski matari tak rela.
Enggan menghendaki.
Saat itu burung pipit yang sejak malam
menyembunyi mampir.
Hendak bertanya akan sesuatu.
Tentang istilah kesunyian.
Lalu menyegerakan pergi.
Jauh dari pandang.
Karena hari biru inilah yang
dieluh-eluhkan.
Untuk sekadar melongok hidup dua orang insan.
Yang masih lugu dan lucu.
Yang tak lebih tahu tentang apa yang
terjadi di kemudian malam.
Begitu membahayakan jika malam,
Telah mapan dengan kegelapannya.
Bahkan watak pun telah menggelap.
Seperti tak tahu arah.
Begitu menderita jika malam,
terus dihantui rasa bersalah.
Yang kemudian menyakiti orang-orang
tercinta.
Sehingga melahirkan sebuah kebengisan.
Kebencian.
Itulah yang aku khawatirkan.
Supaya nantinya kita mengerti dan paham.
Bukan benci yang dituju malam.
Bukan itu.
Selanjutnya, ku merindukanmu.
Seindah-indahnya kerinduan.
Secemerlang emas perak. Meski, kita sering
berjumpa.
Selalu bertegur sapa.
Suatu malam biru di tepi senja

R.H.S

foto: ourgom.com

Puisi VII

800×600

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Puisi VII
Rindu.
Seperti air hulu
yang menginginkan segera
ke muara.
Rindu.
 Ketakutan yang akan
menjadi sebuah
ketenangan.
R.H.S


*) Sebagai simpul aku, menemanimu

Sajak XI

Antara Kami dan Engkau

Kami bergerak bukan untuk
menjatuhkan, kami bergerak untuk menyatukan.
Kami bergerak bukan untuk
menghancurkan, kami bergerak untuk mengatakan. 
Kami bergerak bukan untuk
mencorengkan, kami bergerak untuk mengingatkan. 
Kami bergerak bukan untuk
memerintah, kami bergerak untuk menyentuh. 
Menyentuh hati dan jiwa diantara
kita.

Dalam hakikatnya, ciri-ciri kami adalah kemunculan
sifat memimpin dan mau dipimpin. Serta menjadi pengemban kebijakan rakyat.
Aspirasi nurani.

Lalu, adakah yang tidak sampai?



R.H.S