PUISI IV

PUISI
IV
:
pada malam dijadikannya aku seorang pangeran
Kabar
yang semalam mengajakku,
Saat
kita melarung kehiruk-pikukkan malam.
Kau
begitu mengesankan,
Sebab
aku selalu saja tersenyum memandang wajahmu.
Aku
ingat saat kaki kita merangkul.
Mencari
tempat persembunyian.
Karena
pada malam itu,
Langit
tak lagi kuat menahan rasa sedihnya.
Seketika
itu kubawa kau ke tempat teduh.
Meski
kita telah kuyup dengan sendirinya.
Tak
habis beberapa igauan,
Kita
mulai disesalkan oleh roda-roda manusia,
Yang
terkesan tak mau ambil pusing.
Kita
diusir.
Langkah
kita bukanlah pedati-pedati usang,
Kuajak
kau meneruskan jejak cerita.
Agar
sembilu-sembilu cinta akan selalu terpatri dalam hati.
Antara
aku dan dirimu.
:
pada perjalanan yang setelah ini
Suara
kita dihentikan oleh isakan tangis yang semakin menjadi-jadi dari langit.
Mengurunglah
niat kita untuk mendekat istana janji.
Sekuyup
tubuh dan pikiranku,
ku 
putuskan untuk mengambil jalan lain.
Agar
tak lagi basah menyambangi tubuh .
Aku
menggigil.
Begitupun
engkau.
Kau
dekap jari-jemariku dengan nada cinta.
Betapa
bahagianya aku.
Aku
adalah kertas usang,
Yang
sudah lama tak pernah ditulis oleh sebuah anugerah.
Sampai
semalam tadi kau merobek kertas usang ini,
Menjadikannya
kertas yang berharga.
Terselip
doa dan ucapan.
Cinta.
R.H.S

Tinggalkan komentar