SAJAK V

SAJAK
V
Memadu
kasih yang sempat timbul tenggelam di dalam hidup kita.
Di
antara kita memang masih ada bekas-bekas luka dari yang terdahulu.
Namun,
itu semua tak menyurutkan hati kita untuk mencari yang terbaik di antara yang
terbaik.
Yang
tercinta diantara yang tercinta.
Dan
saat ini hatiku berlabuh dengan nama insan yang menghamba kepada kesetiaan
cinta.
Cinta
kepada Yang Maha Cinta.
Juga
cinta kepada sesama manusia.
Cinta
kepada keluarga.
Cinta
kepada Dikau.
Yang
kerap membuat hatiku sekemilau berlian.
Sekuat
batu karang yang tahan oleh kuatnya gelombang.
Padamu
yang menjadi sosok terindah untuk selalu ku mengatakannya.
Padamu
aku menjadi penyemangat buat diriku juga orang di sekitarku.
Aku
menyukaimu seperti aku menyukai diriku dan hidupku.
Aku
mencintaimu seperti aku mencintai ciptaan Yang Maha Pencipta.
Kuharap
engkau tak pernah bosan untuk mengenal insan yang satu ini.
Tak
pernah dirundung pilu saat bersamaku.
Selalu
menyibakkan senyuman kepadaku dan kepada orang-orang di sekitar kita.
Karena
ini semua hak dan kewajiban kita.
Untuk
bahagia atau bersedih.
Untuk
menang atau kalah dalam pertempuran kehidupan.

R.H.S

SAJAK III

SAJAK
III
Melepas
mata yang semalam terpancar
Pada
sejuta celah-celah cahaya
Aku
masih tak bias melepas mataku
Tertuju
padamu
Saat
jemariku mulai menganyam jejaring  cinta yang bersama  kita rajut.
Itu
adalah kebersamaan.
Ya, 
kusebut ini cinta bersama.
Ada
kalanya hal yang seperti itu,
diremehkan,
dibawahkan
dan dijatuhkan.
Aku
tak pernah anggap itu sepele
Memang
berbagai cara layak itu tidak begitu mewah.
Karena
kemewahan hanyalah perhiasan yang tak abadi.
Kekinianku
mulai merangsek di sebagian tubuhmu.
Entah
di bagian mana dan lewat mana.
Entah
pada kesadaran yang bagaimana dan tingkat berapa.
Aku
tahu bahwa lukisan dunia
Masih
belum seindah perjalanan kaki-kaki kita.
Senang
menopang dan membata salah satunya.
Indah.
:
Agar nantinya selalu indah

R.H.S

PUISI IV

PUISI
IV
:
pada malam dijadikannya aku seorang pangeran
Kabar
yang semalam mengajakku,
Saat
kita melarung kehiruk-pikukkan malam.
Kau
begitu mengesankan,
Sebab
aku selalu saja tersenyum memandang wajahmu.
Aku
ingat saat kaki kita merangkul.
Mencari
tempat persembunyian.
Karena
pada malam itu,
Langit
tak lagi kuat menahan rasa sedihnya.
Seketika
itu kubawa kau ke tempat teduh.
Meski
kita telah kuyup dengan sendirinya.
Tak
habis beberapa igauan,
Kita
mulai disesalkan oleh roda-roda manusia,
Yang
terkesan tak mau ambil pusing.
Kita
diusir.
Langkah
kita bukanlah pedati-pedati usang,
Kuajak
kau meneruskan jejak cerita.
Agar
sembilu-sembilu cinta akan selalu terpatri dalam hati.
Antara
aku dan dirimu.
:
pada perjalanan yang setelah ini
Suara
kita dihentikan oleh isakan tangis yang semakin menjadi-jadi dari langit.
Mengurunglah
niat kita untuk mendekat istana janji.
Sekuyup
tubuh dan pikiranku,
ku 
putuskan untuk mengambil jalan lain.
Agar
tak lagi basah menyambangi tubuh .
Aku
menggigil.
Begitupun
engkau.
Kau
dekap jari-jemariku dengan nada cinta.
Betapa
bahagianya aku.
Aku
adalah kertas usang,
Yang
sudah lama tak pernah ditulis oleh sebuah anugerah.
Sampai
semalam tadi kau merobek kertas usang ini,
Menjadikannya
kertas yang berharga.
Terselip
doa dan ucapan.
Cinta.
R.H.S

PUISI II

PUISI
II
Aku
mendengar bunyi
Sajak yang bernada
Dari setiap not-not
kehidupan
Nadanya tinggi rendah
Nikmati saja
Sudah lama aku
mendambakan suara
merdu itu
dengan iringan burung
yang bergerombol
di pinggir selokan
yang tak lagi mengalir airnya
Aku menikmati hidup
ini
Masih suara merdu itu,
Nadanya sungguh
membuat bulu kuduk tersenyum
Pohon-pohon palem juga
turut bernyanyi
sambil berbaris rapi.
Sungguh, aku menikmati
keadaan ini.
Duhai suara nan merdu,
Aku tahu lika-liku
hidup memang tak pernah ada.
Tak pernah tiada.
Sebab, sudah jelas
terlihat dalam sebuah buku.
Rahasia.
Aku adalah jalan untuk
kau berjalan.
Aku adalah lantunan
untuk bernyanyi.
Bahagia.

R.H.S

SAJAK I

SAJAK I
Bukan aku ingin banyak
bicara.
Karena kata ini
terlalu sulit untuk terucap sebelumnya.
Pada masa yang lalu.
Tapi, aku yakin dan
pantas untuk kau baca.
Entah pagi yang
bagaimana yang aku butuhkan.
Entah embun yang
seembun apa yang aku rasakan.
Hanya kau yang aku
ingat.
Ketika melihat
matahari muncul,
Begitu ku teringat
pada senyum simpul yang kau berikan.
Ketika kuayuh kuda
besi tadi,
Masih membayangkan
begitu indah perilakumu
Terhadap manusia ini
Jika memang barisan
pagi,
Embun,
dan keadaan
sekelilingku dapat aku simpul.
Maka kudapatkan
sejelas-jelasnya sosokmu.
Membekas.
Bahagia.
R.H.S

Sajak Orang yang Mau Mati

Sajak Orang yang Mau Mati
Jika
wajah bumi bisa pucat pasi, maka tiada yang tak mungkin dengan wajahku. Wajah
manusia biasa yang bisa-bisanya mengaku manusia. Tetapi, tidak berlaku
manusiawi bahkan terhadap hewan dan sejenis kuskus yang lari di pelataran
rumah. Hal ini mungkin akan menjadi momok yang menakutkan untukku. Bisa juga
untukmu. Untuk kalian.
Aku
tahu aku pasti mati. Begitupun nasibmu dan nasib kalian. Namun, bukan mati yang
aku takutkan. Aku takut ada aku kecil yang siap menjadi aku yang kotor dan
penuh bau kotoran ini. Aku takut aku kecil mengajarkan bakal-bakal aku yang
lain agar menjadi aku yang sekarang. Aku tidak ingin aku-aku yang lain menjadi
aku yang rusak.
Mungkin
aku yang sekarang telah mati.Tetapi, hati-hati pada aku-aku yang lain. Yang
bahkan akan jauh berbeda dengan sekarang. Jauh lebih kotor dan bau. 
Ini
semua karena proses yang berlangsung lama. Membentuk sedimentasi yang tak
mempan oleh terjangan dan hujatan angin. Juga air. Atau api.
Aku
yang dahulu telah mati,sebab aku tumbuh menjadi tunas yang baru. Aku tak akan
sama dengan aku-aku yang dahulu. Sebab proses mengajarkanku pada kekosongan.
Kenistaan.
Aku
yang dahulu telah mati, semoga kau rekam diingatanmu dengan baik. Aku tak mau
janji. Karena janji adalah manipulasi orang yang membutuhkan keyakinan. Karena
ketidakyakinannya. Maksudku, tanpa berjanji pun, kau bisa melakukan perbuatan
yang jauh lebih baik. Pada saatnya.Pada saatnya.Tanpa perlu janji-janji yang
menyukai kepalsuan itu.
:
aku atau kau yang mati

R.H.S

Aku Tak Memahami Ilalang

Aku Tak Memahami Ilalang
:
Aku yang tak memahami ilalang,
atau
ilalang yang tak memahamiku
Sedari
dulu aku mencari
aku
tak memahami ilalang,
jika
hanya dipandang
tidak
untuk dirasakan
Sampai
aku tertatih
aku
tak memahami ilalang,
jika
hanya disayang
bukan
di hati
Sejauh
aku menyambut
aku
tak memahami ilalang
tentang
arti melupakan
dan
menjauh pergi
Ilalang
yang memahamiku,
tentang
sebuah cinta kepada tubuh
yang
dipilih
untuk
disakiti
Dan
ilalang yang memahamiku,
tentang
meneruskan hidup
untuk
bernyanyi
agar
menyentuh langit negeri

R.H.S