Merah Muda
ilusi atau fatamorgana
hadap ku melihat
dengan berjuta bunga yang merekah
banyak daun yang tak pernah melepas keluh wajahmu
saja jika aku mulai menggerutu
gaduh yang bukan kepalang mengerumuni fikiranku
syaraf-syaraf nirwana
kelak membuatku teramat gundah
senyum yang kau goreskan di semerbak melati
pernah hilang
terang matamu
kusangsikan sebagai keniscayaan
waktu dimana kawah pipimu dapat terekam
waktu dimana perantauan jiwa akan selalu berlabuh
kau menyentuh pekerjaan pena
kau hiasi dengan tertawa atau tertegun
kutahu ini hal yang membuatmu memangku tangan
dengan hijab merah mudamu
asa cerlah di samping bunga-bunga yang kusebutkan tadi
harummu yang mengepul
membentuk awan
bintang di dalam qalbu
akan selau mangkir
tak kau jalankan
perahu kertas
terombang ambing
kerumunan danau teratai
iya.
untukmu lembayung nyiur
menggoyang nadi-nadi pembatas
jadikan tekadmu
Brahmana
Syiwa
batu karang di lautan
tersenyumlah jika menurutmu itu indah