Penantian

Penantian
Menunggu namamu yang mungil segera
menjemputku.
Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan
kemudian tiada.

Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada
sepenggal lantunan yang kau bawa mati. 
Dahulu.

Masih kukecup datar kulitmu yang langsat.
Kencang.
Membuatku tergoda.

Pagi.
Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu.



R.H.S

Sekadar Salam

Sekadar Salam

Salam sapa kepada bapak-bapak yang
mengerti tentang naiknya elpiji,

yang saling lempar bola
lempar tanggung jawab.

Salam sapa kepada ibu-ibu yang tak bisa berhenti
berkicau tentang naiknya elpiji,

yang menghabiskan koceknya
sehingga mereka geram

Salam sapa kepada pemuda yang bahkan baru tahu tentang
naiknya elpiji,

mereka tenggelam di dunia tawa
tempat singgah tayangan tak bernyawa

Salam sapa kepada para kreator politik yang pedas
kata-katanya,

tenang saja,
percuma saja kau emosi.
Toh, tak didengar juga.

Mungkin, hanya dicatat dan diselipkan ke kantung
celana.



R.H.S

Pengakuan

Pengakuan

Tuhan, aku menundukan wajah.

Tahu aku terlalu banyak tersenyum,



tanpa sadar bahwa orang lain murung.


Tuhan, aku sedang menghela keringat.



tahu aku telah dilumuri minyak-minyak jahat,


yang biasa aku bersihkan dengan sapu tangan
kesayanganku.


Tuhan, aku sedang berkesungguhan.



Tahu aku telah lalai di kesembaban lalu,


yang membayang sampai hitam pekat.

R.H.S

Ketika Sehelai Daunku Jatuh

Ketika Sehelai Daunku Jatuh

Baru kali ini aku merelakan sehelai
daunku jatuh.

Tetapi, daun di tubuhku ini tidak hanya satu.
Terdapat ribuan bahkan jutaan helai yang menempel
padaku.

Aku sangat bahagia saat dedikasi-dedikasi mereka begitu
tinggi.

Aku tersenyum dengan mereka yang muda.
Tahan angin topan dan hujan.
Padahal aku belum tentu sekuat mereka.

Wahai bagian tubuhku yang melekat.
Jangan lagi takut meranggas dan terjatuh di tanah.
Karena dengan jatuhnya engkau,
Itu artinya jatuh pula air mataku.


R.H.S

Masih Politik

Masih Politik

Setahun sejak adanya Masehi,
sajak tentang kemerdekaan tak lagi mengeluar.
Entah penduduk dunia yang telah merdeka seutuhnya.
Atau mungkin singgasana para teknokrat yang
menjepit-jepit mereka.

Modus.
Aku tak tahu.

Pada sebuah keterikatan,
zaman dengan zaman selanjutnya ada keterkaitan.
Dengan pakem hasut-menghasut gaya bonaparte.
Kata siapa.
Aku tak tahu.

Manusia yang menghubung secara hori dan verti,
mulai lalai mengkorupsi lingkungannya.
Politik tegur sapa katanya.
Bubarkan saja.
Aku tak tahu.



R.H.S

Sajak Seorang Tahanan

Sajak Seorang Tahanan

Kumelihat perhatianmu kepadaku dari
balik jeruji besi.

Sambil mengunyah roti yang diberi pak sipir tadi pagi.

Kadang roti ini tak ku makan.
Sentuh bagian muka saja tidak.
Biasanya kubiarkan agar dilahap oleh binatang lapar.
Bisa.
Tikus.

Dengan setelan compang-camping,
ku selonjorkan kaki yang tadi pagi keram.
Terkena lilitan syaraf.
Leher.
Bersitegang.

Malamku serasa siang.
Dan siang hariku terasa tak bermalam.
Maklum.
Aku tahanan.

Aku habiskan waktu.
Tidur pulas.
Tidak ada yang membangunkan.



R.H.S

Iya!

Iya!

Sampai pada kesimpulan.
Seharusnya kau pandai memahami,
bahwa semua yang kau sangsikan kepadaku adalah tuduhan
yang tak beralas.

Sengketa pemikiran,
perampasan otak,
perajaman kebenaran demi kebenaran.
Itu menggambarkan tentang kecintaanmu kepada kami.
: iya

Masih saja membutakanmu.
Akan perihal yang sebiji zarah itu.
Begitu indah pernyataan cintamu pada kami.
: iya

Aku harap engkau benar-benar cinta kepada kami.
Orang yang tak bisa melihat kau meneteskan air
mata.

Kami cinta kau.


: masalah lama



R.H.S

Sebuah Memo

Sebuah Memo 

Kelereng-kelereng adikku,
masih tersusun rapi di dalam kaleng susu bekas.
Ku teringat pada sebuah memo yang diberikannya padaku.

“Ayah pergi dengan mata tertutup. Aku pun akan
pergi dengan mata tertutup. Sempatkanlah menyiapkan matamu dahulu. Sebelum kau
pergi dan tak akan kembali.

Susunlah layaknya kelereng-kelerengku. Meski bertempat
gelap dan sempit. Akan bertahan sampai tenggat waktu yang lama.”

Terakhir kali ku mengingatnya,
ku meneteskan air mata.
Kehilanganku.
Susunan yang tidak teratur.


R.H.S

Surat untuk Tukang Parkir

Surat untuk Tukang Parkir
: untuk bapak tukang parkir

Peluitmu sudah tua ya.
Sampai tiupanmu tak lagi menggema. Menyeruak ke segala
aspek pemerintahan. Di pinggiran jalan kota.

Topimu juga sudah berkerak.
Tidak layak untuk kau kenakan.Malah mencoreng wajah
lugasmu.

Enggan melindungimu dari serangan surya.

Seragammu juga sudah mulai luntur nampaknya.
Warnanya pudar dan berubah menjadi banyak warna.
Bunglon.

Pasti digunakan untuk mengelap dinding kotor.
Budak.

: bapak ini bukan tukang parkir,tetapi orang yang
memarkir

Doaku Dalam Harapan

Doaku Dalam Harapan


Untuk adik-adikku yang
selalu menyapa cahaya,



Aku tahu kalian sedang dirundung keandaian. Aku tahu
kalian sedang menafsirkan angka baik dalam hidup. Aku pun tahu bahwa kalian
sedang mengadu kepada Sang Penentu takdir.



Adik-adikku yang bercahaya,



Ambil satu dari sekian banyak peluhmu. Ambil satu makna
yang kalian anggap teramat dibutuhkan. Jangan ambil peluh yang tidak berguna
untuk kalian simpuhkan kepada-Nya. 



Adik-adik cahayaku,



Semboyankan bahasa indah. Aku yakin akan menggugurkan
lara


R.H.S