menjemputku.
kemudian tiada.
Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada
sepenggal lantunan yang kau bawa mati.
Masih kukecup datar kulitmu yang langsat.
Kencang.
Membuatku tergoda.
Pagi.
Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu.
Masih kukecup datar kulitmu yang langsat.
Kencang.
Membuatku tergoda.
Pagi.
Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu.
Salam sapa kepada ibu-ibu yang tak bisa berhenti
berkicau tentang naiknya elpiji,
yang menghabiskan koceknya
sehingga mereka geram
Salam sapa kepada pemuda yang bahkan baru tahu tentang
naiknya elpiji,
mereka tenggelam di dunia tawa
tempat singgah tayangan tak bernyawa
Salam sapa kepada para kreator politik yang pedas
kata-katanya,
tenang saja,
percuma saja kau emosi.
Toh, tak didengar juga.
Mungkin, hanya dicatat dan diselipkan ke kantung
celana.
Wahai bagian tubuhku yang melekat.
Jangan lagi takut meranggas dan terjatuh di tanah.
Karena dengan jatuhnya engkau,
Itu artinya jatuh pula air mataku.
Pada sebuah keterikatan,
zaman dengan zaman selanjutnya ada keterkaitan.
Dengan pakem hasut-menghasut gaya bonaparte.
Kata siapa.
Aku tak tahu.
Manusia yang menghubung secara hori dan verti,
mulai lalai mengkorupsi lingkungannya.
Politik tegur sapa katanya.
Bubarkan saja.
Aku tak tahu.
Kadang roti ini tak ku makan.
Sentuh bagian muka saja tidak.
Biasanya kubiarkan agar dilahap oleh binatang lapar.
Bisa.
Tikus.
Dengan setelan compang-camping,
ku selonjorkan kaki yang tadi pagi keram.
Terkena lilitan syaraf.
Leher.
Bersitegang.
Malamku serasa siang.
Dan siang hariku terasa tak bermalam.
Maklum.
Aku tahanan.
Aku habiskan waktu.
Tidur pulas.
Tidak ada yang membangunkan.
Sengketa pemikiran,
perampasan otak,
perajaman kebenaran demi kebenaran.
Itu menggambarkan tentang kecintaanmu kepada kami.
: iya
Masih saja membutakanmu.
Akan perihal yang sebiji zarah itu.
Begitu indah pernyataan cintamu pada kami.
: iya
Aku harap engkau benar-benar cinta kepada kami.
Orang yang tak bisa melihat kau meneteskan air
mata.
Kami cinta kau.
“Ayah pergi dengan mata tertutup. Aku pun akan
pergi dengan mata tertutup. Sempatkanlah menyiapkan matamu dahulu. Sebelum kau
pergi dan tak akan kembali.
Susunlah layaknya kelereng-kelerengku. Meski bertempat
gelap dan sempit. Akan bertahan sampai tenggat waktu yang lama.”
Terakhir kali ku mengingatnya,
ku meneteskan air mata.
Kehilanganku.
Susunan yang tidak teratur.
Peluitmu sudah tua ya.
Sampai tiupanmu tak lagi menggema. Menyeruak ke segala
aspek pemerintahan. Di pinggiran jalan kota.
Topimu juga sudah berkerak.
Tidak layak untuk kau kenakan.Malah mencoreng wajah
lugasmu.
Enggan melindungimu dari serangan surya.
Seragammu juga sudah mulai luntur nampaknya.
Warnanya pudar dan berubah menjadi banyak warna.
Bunglon.
Pasti digunakan untuk mengelap dinding kotor.
Budak.
: bapak ini bukan tukang parkir,tetapi orang yang
memarkir